Prof. Miriam Budiardjo: Ungkapkan Kebenaran Walaupun Pahit

: Senin, 17 Maret 2014

Pakar politik dan penulis buku Pengantar Ilmu Politik, yang menjadi buku wajib mahasiswa politik, itu dikenal sebagai seorang dosen yang cantik berkacamata, berpakaian rapi, bersuara lunak tetapi tegas dan tetap bersahaja. 

 

Sampai menjelang akhir hayatnya dia masih sibuk dengan dunia akademis. Terakhir sedang mengerjakan revisi buku Dasar-dasar Ilmu Politik yang telah 20 kali lebih dicetak ulang. Menurut putri tunggalnya, Gitayana, sebenarnya revisi sudah hampir selesai. Selain itu, menurut Gitayana, Miriam juga sedang menyelesaikan kata pengantar buku klasik lainnya, Kuasa dan Wibawa, ketika akhirnya harus dirawat di RS Medistra dan kemudian meinggal dunia pada 8 Januari 2007.

Pada masa pergerakan Miriam juga ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan dekat dengan kelompok ”pemuda Sjahrir” yang belakangan mendirikan Partai Sosialis Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, ia antara lain menjadi Sekretariat Delegasi Indonesia dalam Perundingan Renville (1947-1948).

Sebentar dia berkarier sebagai diplomat, bertugas di New Delhi, India, dan Washington DC, Amerika Serikat (AS). Dia perempuan diplomat pertama di Indonesia. Kemudian, alumni program S-2 di Georgetown University, Washington DC, AS, itu memilih berkecimpung di dunia pendidikan dan keilmuan. Dia sempat mengikuti program S-3 di Harvard University, Cambridge, AS, namun tak sampaih diselesaikannya. Namun pada tahun 1990-an, dia dianugerahi gelar doctor honoris causa oleh almamaternya, FISIP UI.

Selain menjadi dosen, Miriam juga dikenal sebagai aktivis perempuan yang giat memperjuangkan nasib perempuan pada jamannya. Kegiatannya sebagai aktivisnya itu pula yang kemudian membuatnya terpilih sebagai Wakil Ketua Komnas HAM pada tahun 1994.

Miriam juga dikenal teguh dalam pendirian dan konsisten dalam prinsip. Gitayana mengungkapkan bagaimana sang ibu berusaha menanamkan keteguhan dan konsistensi itu. “Ibu mengajarkan kami seperti itu. Ungkapkan kebenaran itu walaupun terasa pahit,” tuturnya.

Salah satu karya besarnya sebagai pakar dan akademisi adalah buku klasik Pengantar Ilmu Politik dan Dasar-Dasar Ilmu Politik yang menjadi buku wajib bagi mahasiswa FISIP di Indonesia dan telah dicetak ulang lebih dari 20 kali. Karya penting Miriam lainnya adalah buku berjudul The Provisional Parliament in Indonesia yang diterbitkan tahun 1956.

Bersama rekan-rekannya, antara lain Sujono Hadinoto, Selo Soemardjan, Sulaiman Sumardi, Ibu TO Ihromi, dan G Pringgodigdo, Miriam mendirikan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia. Dia menjadi dekan dua periode tahun 1974-1979 menggantikan Selo Soemardjan.

Dia telah menjadi guru bagi banyak pakar politik di Indonesia, di antaranya Juwono Sudarsono, Arbi Sanit, Maswadi Rauf, dan Isbodroini Suyanto.

Sebagai pengamat ilmu politik, Miriam sering mengoreksi kekuasaan dengan cara yang sopan namun tetap kritis. Salah satu yang bersejarah adalah ketika bersama Rektor UI Prof Dr dr Asman Boedisantoso dan rekan-rekan Rektorat UI menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana tanggal 16 Mei 1998. Ketika itu dalam situasi politik telah panas, menyampaikan hasil Simposium Kepedulian UI terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia. Berhubung Miriam sudah sangat senior, dialah yang membacakan hasil simposium itu di hadapan Pak Harto. Intinya, mereka menyarankan agar Pak Harto dengan sukarela lengser ing keprabon.

Butir pertama yang dibacakan Miriam berbunyi, ”Menyambut baik kesediaan Bapak (Soeharto) untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden...”. Namun, kalimat tambahan ”mendesak agar dilaksanakan dalam waktu sesingkat-singkatnya” batal dia bacakan.

Tak lama setelah itu, Miriam mundur dari berbagai kegiatan politik, termasuk dari jabatan Wakil Ketua Komnas HAM yang dijabatnya sejak tahun 1994. Memilih melanjutkan pengabdian dari ruangan kerja berjendela geser yang terbuka menghadap ruang makan di rumahnya di Jalan Proklamasi No 37, Jakarta Pusat.

Keberhasilan Miriam dalam karirnya tak terlepas dari dorongan orang tuanya, Saleh Mangundiningrat dan Isnadikin Citrokusumo. Bersama saudara-saudaranya didorong untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Mereka pun berhasil menjadi putera-puteri bangsa yang berguna. Kakaknya, Soedjatmoko, merupakan salah seorang pemikir Indonesia modern. Adiknya, Nugroho Wisnumurti, pernah menjadi Duta Besar RI untuk PBB dan kakak perempuannya, Siti Wahyunah (Poppy), menikah dengan Sutan Sjahrir.

Miriam menerima Bintang Mahaputra Utama tahun 1998 dan Doktor Kehormatan Ilmu Politik dari UI (1997) dan menerima Bintang Jasa Utama Pengabdian kepada Republik Indonesia selama Masa Perjuangan Kemerdekaan (1995).

Untuk menghormati jasa-jasa Ibu Mir, Universitas Indonesia menetapkan nama Miriam Budiardjo sebagai salah satu nama jalan di kampus UI Depok. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai Miriam Budiardjo Research Center di kampus FISIP UI Depok.

Share
Hits: 2361

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share