Dr. Radjiman: Dokter Rakyat dan Tokoh Pergerakan

: Jum'at, 08 November 2013

Pengabdian Mas Radjiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkan untuk  bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa kecil yang hidup di keluarga biasa membuatnya mampu menangani penderitaan para pasiennya.

Melalui pendekatan budaya, ia mampu mempraktekan ilmu pengobatan moderen kepada rakyat kecil yang masih sulit menerimanya ketika itu. Penderitaan hidup dan keterbelakangan masyarakat pribumi itu menumbuhkan jiwa kebangsaan dalam dirinya yang kemudian mengikuti jejak “guru besarnya”, Dr Wahidin Sudirohusodo, untuk memperjuangkan nasib pribumi.

Dalam buku “Dokter-Dokter UI” yang diterbitkan ILUNI FKUI tahun 2010, ia tercatat dengan nama Mas Radjiman. Bukan keturunan bangsawan, ia adalah putra dari seorang penjaga sebuah toko kecil di Yogyakarta bernama Ki Sutodrono dan ibunya adalah seorang wanita berdarah Gorontalo. Pendidikannya dimulai dengan model pembelajaran hanya dengan mendengarkan pelajaran di bawah jendela kelas saat mengantarkan putra Dr. Wahidin Soedirohoesodo ke sekolah, kemudian atas belas kasihan guru Belanda disuruh mengikuti pelajaran di dalam kelas. Karena kecerdasannya dan juga bantuan dari Dr. Wahidin, Mas Radjiman dapat melanjutkan sekolah Dokter Djawa dan lulus tahun 1898 pada usia 19 tahun.

Putra bangsa kelahiran Yogyakarta, 21 April 1876, ini kemudian mengabdi sebagai dokter di Banyumas, Purworejo dan Semarang. Belum puas dengan gelar dokter Jawa, ia melanjutkan ke STOVIA di Jakarta sampai meraih gelar Indisch Art (dokter pribumi) tahun 1904. Setelah bekerja di Lawang, Jawa Timur, pada tahun 1906 ia melanjutkan ke Sekolah Dokter Tinggi, Amsterdam, sampai meraih gelar Arts (dokter) tahun 1910. Dengan keberhasilan ini, ia mencapai kedudukan yang sejajar dengan para dokter bangsa Belanda.

Pengabdian Mas Radjiman saat menjadi dokter pemerintah, memungkinkan untuk  bersentuhan langsung dengan rakyat kecil. Kesamaan nasib semasa kecil yang hidup di keluarga biasa membuatnya mampu menangani penderitaan para pasiennya. Melalui pendekatan budaya, ia mampu mempraktekan ilmu pengobatan moderen kepada rakyat kecil yang masih sulit menerimanya ketika itu. Penderitaan hidup dan keterbelakangan masyarakat pribumi itu menumbuhkan jiwa kebangsaan dalam dirinya yang kemudian mengikuti jejak “guru besarnya”, Dr Wahidin Sudirohusodo, untuk memperjuangkan nasib pribumi.

Mas Radjiman kemudian ikut berperan dalam berdirinya Budi Utomo dan kemudian dipercaya sebagai ketuanya pada tahun 1914 hingga tahun 1915. Ketika memimpin Budi Utomo, ia membuat manuver dengan mengusulkan pembentukan milisi rakyat disetiap daerah di Indonesia. Dan itulah pertama kali bangsa Indonesia memiliki kesadaran untuk  memiliki tentara rakyat. Manuvernya dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad (dewan rakyat) dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari Boedi Utomo.

Ruang depan rumah kediaman dr. Radjiman di NgawiRuang depan rumah kediaman dr. Radjiman di Ngawi

Ketika masyarakat kabupaten Ngawi terserang wabah pes tahun 1934, Mas Radjiman memilih menetap dan tinggal di tengah-tengah masyarakat Ngawi Jawa Timur untuk mengabdikan diri sebagai dokter ahli penyakit pes. Selain itu Mas  Radjiman juga berusaha memberdayakan dukun bayi di Ngawi untuk mencegah kematian ibu saat melahirkan dan juga bayinya. Ia sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat, terutama mereka yang tidak mampu. Ia kemudian juga diangkat menjadi dokter keraton Surakarta dan mendapat gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dengan tambahan nama belakang Wedyodiningrat.

Tinggal di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, rumah Mas Radjiman berjarak hanya sekitar 1,5 Km dari stasiun kereta api Walikukun. Memanfaatkan jasa transportasi kereta api, tokoh pergerakan ini sering bolak-balik Jakarta-Ngawi untuk menghadiri rapat-rapat di Volksraad ataupun pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya.

Ketika Jepang masuk Indonesia, Volksraad dibubarkan. Jepang berjanji bahwa Indonesia akan dimerdekakan dan kemudian membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu zumbi Coosakai. BPUPKI dibentuk untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting untuk mendirikan negara Indonesia merdeka.

Mas Radjiman ditunjuk menjadi ketua didampingi dua orang ketua muda, yaitu Raden Panji Soeroso dan Hibangase Yosio. Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Panji Soeroso, dengan wakil Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda (orang Jepang).

Sidang resmi pertama BPUPKI berlangsung lima hari, yaitu 28 Mei sampai 1 Juni 1945.  Pada sidang tersebut, Mas Radjiman mengajukan pertanyaan,  “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan itu dijawab oleh Soekarno tentang dasar negara yang dinamakan Pantja Sila---sebagaiman yang ditulis Mas Radjiman dalam pengantar buku “Lahirnya Pancasila”:

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh "Lahirnya Pancasila" ini, akan temyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang!

Sidang resmi kedua BPUPKI berlangsung 10-17 Juli 1945 dengan tema bahasan bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan Undang-Undang Dasar, ekonomi dan keuangan, pembelaan negara, pendidikan dan pengajaran. BPUPKI kemudian dibubarkan dan kemudian dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan Ketua Ir.Soekarno dan wakil Drs.Mohammad Hatta, sedangkan  Mas Radjiman duduk sebagai salah seorang anggota.

Menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, Mas Radjiman bersama Soekarno dan Hatta berangkat ke Da Lat (Vietnam) untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi—Panglima Pasukan Jepang di Asia Tenggara. Dari Marsekal Terauchi itulah para Bapak Bangsa ini menerima kabar gembira: kemerdekaan Indonesia sudah diambang pintu.

Pada awal kemerdekaan, ia menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan kemudian anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Dalam perkembangannya, seluruh badan perwakilan, baik yang didirikan RI maupun Belanda digabung dalam DPR-RI. Sebagai anggota tertua, mendapat kehormatan memimpin rapat pertama lembaga itu. Pada tahun 1950-1952 menjadi anggota DPR di Jakarta. Walaupun telah berusia lanjut, pikirannya masih jernih sehingga diangkat sebagai Sesepuh.

Dokter pejuang yang rendah hati dan berjiwa sosial tinggi ini akhirnya wafat tanggal 20 September 1952. Jenazahnya dimakamkan di Desa Mlati, Sleman Yogyakarta, berdekatan dengan makam Dr.Wahidin Sudiro Husodo yang telah membesarkannya.

Share
Hits: 1773

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share