Retno Wulan: Hakim Yang Tak Mempan Disuap

: Sabtu, 26 Oktober 2013

Ia adalah hakim perempuan pertama di Kota Bandung. Kariernya dibangun dengan reputasi yang bersih, mulai dari Hakim Pengadilan Negeri sampai Hakim Agung di Mahkamah Agung RI. Tak hanya pandai dan ahli, ia punya nilai yang sudah langka diantara para hakim zaman ini: kejujuran dan hati nurani.

 

“Keluar! Jangan coba-coba bawa amplop pada saya!” Tangannya teracung ke atas, menunjuk pada oknum-oknum yang pernah mencoba menyuapnya.

Sesaat ia terdiam, mengingat tahun-tahunnya sebagai pengawal keadilan di negeri ini. Suka dan duka telah ia lewati. Jatuh, bangun, gagal, berhasil, telah ia lalui dengan kepala tegak. Reputasinya sebagai hakim yang jujur, berhasil ia pertahankan selama 39 tahun, sampai masa pensiunnya.

“Menjadi hakim, harus jujur dan baik,” tutur Retno tegas. “Hakim harus menerapkan apa yang tertulis dalam Undang-Undang, bukannya mencari keuntungan.”

Retno Wulan Sutantio memang terkenal jujur dan bersih. Di antara koleganya, ia dihormati. Para hakim muda mencontohnya sebagai panutan. Murid-muridnya mencintai dia, sebagai guru sekaligus ibu.

Semua dimulai pada bulan September 1951. Kala itu, perempuan yang lahir dengan nama Siem Gwee Ing ini baru masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Mendalami bidang hukum memang cita-citanya sejak kecil. Namun baru saja menginjak tahun pertama, kegagalan sudah menghadangnya. Ia gagal ujian selama 9 bulan pertama. “Saya gagal karena hanya belajar teori saja dari buku. Ternyata di bidang hukum, itu tidak cukup. Saya harus tahu banyak praktek yang diajarkan para profesor.”

Retnowulan tak patah semangat. Ia mengejar ketinggalannya mulai dari banyak bergaul dengan teman, senior, dosen dan malalap habis buku-buku hukum. Dalam waktu singkat ia dikenal para dosen sebagai mahasiswi yang selalu datang lebih awal dan duduk di depan. Dalam waktu 4,5 tahun ia sudah berhasil lulus dengan gemilang.

Saat itulah seorang profesor menyarankannya untuk menjadi hakim. Menjadi hakim? Retno muda tertegun. Ia masih 26 tahun. Bagaimana bisa? Ternyata waktu membuktikannya. Menjadi hakim bukan saja harus pandai dan menguasai hukum. Menjadi hakim harus punya hati nurani, jujur dan tidak cinta uang.

“Menjadi hakim adalah panggilan dan pengabdian. Profesi hakim bukan tempat mencari uang!” katanya tegas.

Istri dari Drs. Tio Tek Hoen ini pun menunjukkannya bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh kehidupannya. Ia hidup sederhana, sampai masa tuanya pun masih naik kendaraan umum. Ia mengatur semua pengeluarannya dengan baik. “Hakim harus hidup sederhana.” Ini prinsip yang ia pegang teguh.

Kasus pertamanya masih ia ingat betul. Ia menangani kasus pencurian ayam dari terdakwa yang mencuri dengan alasan membayar uang sekolah anaknya. “Saya bersimpati padanya, tapi ia tetap bersalah,” tegas ibu dari 4 anak ini. Si terdakwa pun harus mendekam di penjara selama 3 bulan.

Ia juga ingat persis bagaimana para terdakwa seringkali mencoba menyuapnya. Mulai dari cara yang paling halus seperti mengirim makanan, mengirim kado sampai memberi uang. Semua ia tolak dengan alasan pendek. “Saya tidak suka uang,” tegasnya.

Selama 39 tahun perempuan yang besar dari keluarga pengusaha tahu di Purwekerto ini hilir mudik antara Bandung dan Jakarta. Mulai dari Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta, Hakim Pengadilan Tinggi Bandung, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Bandung, Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan di Mahkamah Agung (MA), sampai akhirnya menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung. Di Bandung ia adalah perempuan pertama yang menjadi hakim.

Selama 8 tahun di MA, ia mengajar seluruh hakim di Indonesia, dari sabang sampai Merauke. Prinsip-prinsip kejujuran selalu ia coba tularkan pada murid-muridnya. Tapi ia sendiri mengaku pesimis dengan kondisi peradilan di Indonesia. Ia tahu, ia tak bisa menutup mata terhadap rekan-rekannya, yang menerima uang suap dengan gembira. “Yah, itu urusan masing-masinglah, saya tidak bisa marah pada mereka. Yang penting, saya tetap menjaga diri saya untuk jujur. Saya harap murid-murid bisa mencontoh,” katanya.

Salah satu murid yang paling dekat dengan Retno adalah mantan Hakim Asep Iwan, SH, MH. Ia pernah mencuat, menjadi kontroversi atas putusannya menghukum mati bandar narkoba di Tangerang. Asep juga menangani beberapa kasus korupsi yang dianggapnya sudah membelit seluruh sistem peradilan. “Saya tidak sekuat Ibu Retno, yang bertahan sampai akhir,” katanya. Pada 2006, karena tekanan yang terlalu tinggi untuk tetap menjadi hakim yang bersih, Asep memilih berhenti dan aktif di jalur akademisi.

Dedikasi dan pengabdian seperti tak ada batas. Dalam usianya yang sudah 78 tahun dan duduk di kursi roda, ”Srikandi Hukum” masih aktif mengajar di Universitas Parahyangan dan universitas Padjajaran. Ia percaya, generasi muda yang memilih jalur hukum harus dididik dengan betul. Bukan hanya pandai otaknya, tapi juga punya hati, punya nurani dan kejujuran.

Share
Hits: 2462

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share