Koentjaraningrat: Bapak Antropologi Indonesia

: Rabu, 03 Juli 2013

Alumnus Fakultas Sastra/ FIB UI (1952) yang akrab dipanggil Pak Koen ini adalah seorang ilmuwan yang sangat berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu antropologi di Indonesia.

 

Hampir sepanjang hidupnya, Koentjaraningrat berjuang untuk pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesuku-bangsaan di Indonesia. Ia merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas dan beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Dan atas jasa-jasanya itu, ia mendapat gelar kehormatan sebagai Bapak Antropologi Indonesia.

Pria kelahiran Yogyakarta, 15 Juni 1923, ini dibesarkan di lingkungan keraton. Ayahnya, RM Emawan Brotokoesoemo, adalah seorang pamong praja di lingkungan Pakualaman dan ibunya, RA Pratisi Tirtotenojo, sering diundang sebagai penerjemah bahasa Belanda oleh keluarga Sri Paku Alam. Meskipun terlahir sebagai anak tunggal, Koentjaraningrat mendapat didikan ala Belanda dari sang ibu untuk menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri.

Ketertarikan Koentjaraningrat dibidang ilmu antropologi berawal ketika ia menjadi asisten Prof GJ Held, guru besar antroplogi UI, yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Yale University Amerika Serikat dan meraih gelar MA dibidang antropologi tahun 1956. Selanjutnya, tahun 1958 ia meraih gelar doktor antroplogi dari Universitas Indonesia.

Pengabdiannya dibidang antroplogi dimulai ketika ia ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian antropologi. Ia pun menyiapkan dan menyediakan bahan untuk pengajaran. Dalam rangka pemenuhan tugas-tugas itu, ia tidak hanya produktif menulis buku-buku acuan pendidikan antropologi, melainkan dia juga menulis buku-buku dan artikel ilmiah lainnya berkenaan dengan kebudayaan, suku bangsa, dan pembangunan nasional di Indonesia.

Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.

Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.

Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah “Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia”, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.

Selain itu, bukunya Pengantar Antropologi yang diterbitkan pada tahun 1996 telah menjadi buku pegangan para mahasiswa di berbagai universitas dan berbagai jurusan yang ada di Indonesia.

Buku lainnya yang pernah diterbitkannya adalah hasil penelitian lapangan ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Minangkabau, daerah Batak hingga pelosok Irian Jaya. Buku itu berjudul Keseragaman Aneka Warna Masyarakat Irian Barat (1970), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971), Petani Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973), Masyarakat Desa di Indoensia (1984), Kebudayaan Jawa (1984), Masyarakat Terasing di Indonesia (1993), dan sebagainya.

Kepribadiannya yang khas, meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan para mahasiswanya. Kesan dan pandangan para mahasiswa, kerabat, sahabat dan koleganya, sepertinya dapat mengungkapkan jati diri seorang tokoh dalam berbagai aspek kehidupannya di kelas, di rumah, dan di dalam kehidupan sehari-hari.

Karier yang pernah dijabatnya yakni menjadi Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia. Kemudian menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Gadjah Mada, dan juga Guru Besar di Akademi Hukum Militer di Perguruan Tinggi Ilmu KeKapolri (1968-1971). Selain itu, Begawan Antropologi Indonesia ini juga pernah diundang sebagai guru besar tamu di Universitas Utrecht, Belanda, Universitas Columbia, Universitas Illinois, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en Sciences Sociales di Paris dan Center for South East dan Asian Studies di Kyoto.

Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).

Pada tanggal 23 Maret 1999, antropolog pertama Indonesia ini meninggal dunia di usia 75 tahun karena sakit. Dari pernikahannya dengan Kustiani, yang dikenalnya sejak kuliah di UI, Koentjaraningrat dikaruniai tiga anak: Sita Damayanti, Rina Tamara, dan Inu Dewanto.

Share
Hits: 2234

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share