SK Trimurti: Militansi Wartawati Pejuang

: Rabu, 12 Juni 2013

Bagi alumnus FEUI (1960) ini, perjuangan tidak mengenal kata akhir. Ia adalah wartawati pejuang yang tidak mengenal rasa takut, mengorbankan apapun yang ia miliki tanpa ada rasa pamrih.

"Tri, tulislah karangan, nanti kami muat dalam majalah Fikiran Ra’jat,” kata Bung Karno, yang menggugah semangat Trimurti untuk pertama kali menulis, dan sejak itulah ia berjuang sebagai seorang jurnalis. Tidak lama kemudian, harian Fikiran Ra’jat yang radikal dan anti-imperialis berhenti terbit setelah bung karno sebagai pemimpin redaksi ditangkap kolonial.

Lulusan sekolah guru wanita (Normaalschool) Solo akhirnya memutuskan berhenti menjadi guru dan memilih untuk berjuang. Masa pahit perjuangan ia alami ketika dirinya dipercaya sebagai Ketua Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI) dan menyebarkan pamflet gelap untuk menyebarluaskan cita-cita perjuangan kemerdekaan. Ia ditangkat polisi rahasia Belanda (PID) dan dipenjara selama 9 bulan.

Keluar dari penjara, ia bekerja untuk majalah “Suluh Kita” dan membantu  beberapa surat kabar lainnya, diantaranya “Sinar Selatan” dimana ia berkenalan dengan Sayuti Melik yang kemudian menjadi suaminya. Saat memimpin majalah “Suluh Kita”, ia ditangkap PID karena dianggap bertanggungjawab atas artikel anti-imperialisme yang ditulis Sayuti Melik yang baru balik dari pembuangan di Boven Digul.

Sayuti Melik yang memimpin majalah “Pesat” kemudian juga ditangkap PID karena tulisan Sri Bintara. Sekeluarnya dari penjara, Trimurti melanjutkan majalah “Pesat”. Tetapi tak lama setelah Sayuti Melik keluar penjara, Trimurti kembali ditangkap PID karena dianggap memihak Jepang.

Mendengar kisah pasangan pejuang ini, Soekarno kemudian memindahkan Sayuti dan Trimurti ke Jakarta untuk ditempatkan di Pusat Tenaga Rakyat. Dan menjelang Proklamasi, Trimurti banyak mengambil peran bersama suaminya, Sayuti Melik, sang pengetik naskah Proklamasi.

Setelah kemerdekaan, Trimurti menjadi anggota Pengurus Besar Partai Buruh Indonesia (PBI) dan berhasil dibujuk Setiajid untuk menjadi Menteri Perburuhan kabinet Amir Syarifuddin. Setelah itu, ia lebih memilih berjuang di organisasi buruh dan meneruskan kuliahnya di FE UI hingga lulus tahun 1960. Pada tahun 1959, ia sempat diminta menjadi Menteri Sosial, tetapi Trimurti dengan tegas menolak, dan saat itu tidak ada satupun yang bisa membujuknya. Ia lebih suka berada di luar kekuasaan, menjadi aktivis buruh dan berjuang melalui tulisan-tulisannya.

Setelah era Orde Lama berakhir, Trimurti menghadapi masa-masa pahit. Pejuang militan ini disisihkan oleh rezim Orde Baru karena dianggap kekiri-kirian dan tidak lagi leluasa untuk bergerak. Namun ia tetaplah seorang pejuang tanpa rasa takut. Ia bergabung bersama Ali Sadikin dan kawan-kawan untuk mengkoreksi rezim Orde Baru.

Share
Hits: 1782

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share