Yuslam Fauzi: Antara Khotbah dan Brankas Bank Syariah

Category: Kiprah Alumni : Kamis, 18 Juli 2013

Bila hidup adalah pilihan, maka Yuslam Fauzi memilih hidup dalam keseimbangan, dan ditengah kesibukannya mengurus brankas Bank Syariah Mandiri, Yuslam tetap berusaha memelihara jalan dakwah dengan memberikan khotbah di masjid-masjid.

Alumnus Fakultas Ekonomi UI tahun 1986 ini memang lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Pemahamannya yang mendalam tentang nilai-nilai agama mendorongnya untuk berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat dan sebisa mungkin mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk bisa menjadi orang-orang yang bermanfaat juga.

Usai diwisuda dari FEUI, pria yang mulai aktif berkhotbah sejak tahun 1983 ini bekerja di Bank Bumi Daya (BBD) dan meneruskan karirnya di Bank Mandiri yang merupakan peleburan BBD dan tiga bank pemerintah lainnya.

Gelombang pengaruh ekonomi syariah pada tahun 1998 dalam karir profesionalnya. Ia pun termasuk tokoh yang giat mempromosikan dan mengedukasi masyarakat tentang ekonomi syariah melalui berbagai seminar, simposium dan workshop. Maka, ketika tahun 1999 Bank Mandiri memutuskan membentuk anak perusahaan, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), Yuslam pun ikut membidani dan dipercaya sebagai Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko. Sempat ditarik lagi ke Bank Mandiri sebagai Regional Manager Wilayah IX Banjarmasin, akhirnya tahun 2005 ia ditempatkan kembali ke BSM dan dipercaya sebagai Direktur Utama.

Memimpin bank syariah bukan hanya merupakan tantangan bagi Yuslam, tetapi juga sebuah pertaruhan. Kegigihannya mempromosikan ekonomi syariah harus mampu ia buktikan dengan wujud nyata, bukan sekedar pemikiran dan gagasan.

Dan ia benar-benar berhasil membuktikannya. Aset BSM yang pada tahun 2005 baru Rp 28,07 triliun naik tajam mencapai Rp 20,07 triliun pada September 2010. Tak hanya itu, berbagai perbaikan pun terjadi, seperti penurunan non performing financing secara signifikan, peningkatan laba bersih, dan penambahan jaringan yang cukup pesat. Dan Februari 2013 lalu, BSM memperoleh Platinum Trophy sebagai bank syariah terbaik selama lima tahun berturut-turut pada ajang Islamic Finance Award 2013. Pada ajang tersebut, BSM juga menerima penghargaan The Best Islamic Full Pledged Bank, The Most Expansive Financing dan The Most Profitable.

Lalu apa kiat keberhasilan Yuslam Fauzi memimpin BSM?

Langkah strategis pertama yang ia lakukan ketika mulai memimpin BSM adalah melakukan due diligence bersama seluruh jajaran senior BSM dalam rangka membedah kondisi BSM secara jujur dan objektif untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ke depan.

“Saya hanya memimpin, merekalah yang melakukan. Kami lakukan bedah aspek likuiditas, kualitas pembiayaan, kualitas SDM, corporate governance, komposisi pendanaan dan pembiayaan, dan sebagainya, hingga akhirnya kami dapat menyimpulkan adanya the seven problems dan mencanangkan the seven solutions untuk mengatasinya. Setelah itu, kami semua bekerja berdasarkan the seven solutions sudah kami sepakati itu, hasilnya baik,” tutur peraih gelar MBA dari Arizona State University tahun 1992 ini.

Salah satu contohnya adalah melakukan pembaruan terhadap nilai-nilai perusahaan, dari yang sebelumnya disebut SIFAT (sidiq, istiqomah, fathonah, amanah, tabligh) diubah menjadi ETHIC (excellent, teamwork, humanity, integrity customer focus).

“Kata ulama, itu sifat nabi. Bukannya kami tidak mau bersifat seperti itu, tapi karena ini lembaga bisnis yang values-nya harus benar-benar mudah dibumikan dalam tataran bisnis di perusahaan, kami menggantinya menjadi ETHIC, yang sesungguhnya kami ambil dari ajaran agama juga,” ungkapnya seraya menegaskan bahwa nilai-nilai itu dirumuskan dengan melibatkan seluruh jajaran BSM hingga yang berada di cabang-cabang.

Setelah berhasil menyeleraskan unsur-unsur di dalam BSM untuk berada dalam satu visi misi, Yuslam kemudian menekankan pentingnya pemberdayaan organisasi. Ia mengaku dirinya menyukai segala sesuatu yang excellent, yang berarti berusaha mendekati kesempurnaan dengan cara menetapkan standar kualitas kerja setinggi-tingginya.

“Saya sangat menghormati anak buah yang serius dan memberikan output yang bagus dalam bekerja. Sebaliknya, saya cukup keras pada karyawan yang kerjanya tidak serius yang nampak pada output yang berantakan, terjadi kesalahan berulang, dan sebagainya. Ini contoh tentang bagaimana kami membina nilai excellence di dalam bekerja,” tegas peraih The Best CEO tahun 2010 dari Majalah Swa.

Kiat berikutnya adalah kesungguhannya untuk bisa menjadi contoh. Ia tidak hanya menetapkan prasyarat yang harus diikuti anak buah, tetapi ia juga melakukannya. Tidak jarang Yuslam dan para direksi BSM rapat hingga dini hari. Awal tahun 2010 misalnya, selama empat bulan berturut-turut, hampir tidak ada akhir pekan yang ia nikmati bersama keluarga, karena setiap akhir pekan selama empat bulan itu ia habiskan untuk berkeliling ke cabang-cabang BSM di seluruh Indonesia untuk menjelaskan kepada para pegawai apa saja yang sudah, sedang, dan akan dilakukan, serta apa saja hasil yang telah dicapai.

Kerja keras dan komitmennya yang tinggi dalam memimpin BSM sepertinya menjadi puncak aktualisasi dari khotbah-khotbah yang ia jalankan. Ia seorang pakar perbankan syariah dan sekaligus praktisi yang telah mewarnai perjalanan industri perbankan syariah di tanah air.

Share
Hits: 1674

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share