Arwin Rasyid: Kejarlah Prestasi, Bukan Jabatan

Category: Kiprah Alumni : Selasa, 04 Juni 2013

“Saya mengejar prestasi, bukan jabatan. Dengan mengejar prestasi, jabatan akan datang sendiri,” ungkap Arwin Rasyid, menjalankan petuah sang ayah, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, salah satu diplomat ulung pada masa perjuangan kemerdekaan dan seorang pejuang Perintis Kemerdekaan.

 

Merintis karir dibidang perbankan sebenarnya bukanlah impiannya. Arwin muda bercita-cita untuk berkarir di Departemen Keuangan atau Bappenas, yang dianggap sesuai dengan pendidikannya di Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan FEUI. Sempat menjadi asisten dosen sejak tahun 1977, arah perjalanan hidupnya berubah ketika pada tahun 1980 ia diminta untuk menjadi moderator sebuah seminar yang diselenggarakan Bank of Amerika (BoA) di FEUI untuk memperkenalkan kepada calon lulusan FEUI agar tertarik melamar ke BoA. Tak disangka, setelah seminar usai, BoA mendekati Arwin dan mengajaknya untuk bergabung.

Mengawali karir dari bawah, sebagai lulusan Studi Pembangunan yang lebih banyak  berkutat dengan ekonomi makro, Arwin merasa kalah ilmu dibanding dengan rekan-rekan kerjanya lulusan luar negeri yang umumnya bergelar MBA. Kelemahan itu justru memacu semangatnya untuk mengasah diri dan mengatasi kekurangannya. Ia pun kemudian mengambil beasiswa ke Amerika dan meraih dua gelar sekaligus, MA (1981) dan MBA (1982) dari University of Hawaii.

Pandai membaca momentum, ketika pemerintah mengeluarkan Paket Oktober tahun 1988 yang membuat perbankan nasional melaju cepat, Arwin memutuskan mundur dari BoA dengan jabatan Asistant Vice President untuk bergabung Bank Niaga dengan posisi yang sama.

“Saat itu saya banyak mendapat tawaran jadi direksi di bank-bank kecil. Tapi saya tolak. Saya tak mau iming-iming jabatan, karena fondasi saya belum kuat. Saya juga melihat perusahaan ini mau dibawa ke mana oleh pimpinan tertingginya dan saya bisa bangga menjadi bagian perjalanan sejarahnya,” Arwin menuturkan.

Bekerja di lingkungan yang tepat membuat Arwin dengan cepat mampu bersinergi dengan kolega-koleganya dan mengoptimalkan kemampuannya untuk bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Karirnya di Bank Niaga terbilang cemerlang, setelah penugasan di posisi-posisi strategis, tahun 1994 ia diangkat menjadi Direktur Korporat Perbankan dan tahun 1998 dipercaya sebagai Wakil Direktur Utama Bank Niaga.

Karena terjadi pergantian pemilik Bank Niaga tahun 1999, Arwin memutuskan mengundurkan diri dan kemudian bergabung ke BPPN sebagai Wakil Ketua. Karirnya di BPPN tidak berlangsung lama, Oktober 2000 ia diangkat menjadi Direktur Utama Bank Danamon dan berhasil meningkatkan kinerja Danamon secara signifikan, dari yang sebelumnya masih merugi hingga berhasil mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1,5 triliun setelah 3 tahun kepemimpinannya. Dan tahun 2003, ia ditarik ke BNI sebagai Wakil Direktur Utama.

Ketika bekerja di BNI, Arwin sempat diminta ikut fit and proper test untuk jabatan Dirut di beberapa perusahaan BUMN tetapi berakhir tanpa kejelasan. Hingga pada tahun 2005, ketika sedang menjalankan umroh, ia diminta pulang ke tanah air untuk fit and proper test Dirut Telkom. Berlangsung sangat cepat: Selasa tiba di Jakarta, Rabu fit and proper test, Jum’at ia diangkat jadi Dirut Telkom.

Penempatan dirinya di Telkom dianggapnya tidak berhasil optimal, meskipun dalam dua tahun kepemimpinannya saham Telkom melesat dari Rp 4.800 menjadi hampir Rp 11.000, level tertinggi dalam sejarah Telkom. Karena banyak kepentingan yang bermain dan tidak memiliki tim yang solid, akhirnya Arwin memutuskan mundur dari Telkom tahun 2007.

“Prinsip saya, seorang profesional harus memilih environment di mana dia bisa berhasil. Saya merasa tak bisa optimal di situ, jadi saya turun supaya dapat dipilih orang yang lebih cocok, dan saya sendiri pun bisa lebih maju dan tak buang waktu,” tegas Arwin.

Setelah mundur dari Telkom, Arwin sempat mencoba usaha sendiri sebagai konsultan. Tidak lama kemudian ia kembali melanjutkan karirnya di perbankan. Tahun 2008 ia mendapat tawaran menjadi President Director CIMB Niaga hingga sekarang.

Dari perjalanan karirnya, Arwin meyakini bahwa untuk bisa sukses, seseorang harus menjalin pertemanan seluas-luasnya dan mampu bekerja sama membangun tim yang kuat. Selain itu, seseorang harus belajar dari kesalahan.

“Satu contoh, dulu  saya perfeksionis. Saya pikir semua orang harus kerja keras. Tapi, tak bisa seperti itu. Kita harus mencari the best in every person lalu put him in the right place. Sebab, pada akhir hari, tim yang bekerja bukan superman,” tuturnya.

Bagaimanapun, tidak ada jalan yang selalu mulus dalam hidup seseorang. Selalu ada masa dimana seseorang dihadapkan pada suatu masalah yang pelik dan rumit.

“Buat saya, kalau kita menghadapi situasi seperti itu, kita perlu ‘kompas’. Kompas ini menjadi cahaya agar kita berada di jalan yang tepat. Dalam kompas itu ada dua referensi yang mau saya kemukakan. Satu referensi dari orangtua saya bahwa kita lebih baik pilih ‘tidur enak’ daripada ‘makan enak’. Itu sebuah kiasan. Saya menangkapnya, dalam membuat keputusan, kita harus berfikir sesuatu yang tepat, bukan yang menguntungkan. Tepat harus di atas menguntungkan,” Arwin menegaskan.

Share
Hits: 1648

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share