Ismed Hasan Putro: Dibalik Bangkitnya Sang Rajawali

Category: Kiprah Alumni : Jum'at, 31 Mei 2013

Nama alumnus Fakultas Ilmu Budaya UI ini sontak menjadi perhatian publik ketika ia mendukung gerakan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk “bersih-bersih” perusahaan negara dan mengungkapkan adanya anggota DPR yang meminta “fasilitas” untuk kepentingan politik.

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sejak dulu BUMN menjadi “sapi perah” penguasa dan politisi, tetapi sulit dibuktikan---bak siluman, baunya ada dimana-mana, tetapi wujudnya sulit ditemukan.

Langkahnya untuk buka-bukaan menjadi sebuah kejutan, karena umumnya orang lebih mencari aman dan selamat. Hal itu setidaknya menunjukkan bahwa, bagi Ismed, jabatan bukan segala-galanya dan lebih memilih menjunjung tinggi idealisme.

Ketika diangkat menjadi Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) pada 2 Maret 2012, Ismed dihadapkan pada permasalahan pelik. Dalam sejarahnya, RNI lebih sering terpuruk dibekap kerugian dan tahun 2011 dilaporkan perusahaan plat merah tersebut merugi hingga Rp 68,4 Milyar. Dan tugas berat Ismed adalah bagaimana menyembuhkan “Rajawali” yang sakit-sakitan itu untuk bisa terbang tinggi.

Sentuhan tangan dingin Ismed bak tangan penyihir. Hanya dalam tempo 9 bulan kepemimpinannya, RNI berhasil meraup laba kotor Rp 450 Milyar tahun 2012. Dan itu merupakan pencapaian tertinggi kinerja bisnis RNI, yang selama 48 tahun laba perusahaan tidak pernah melewati angka Rp 100 Milyar dan bahkan seringkali merugi.

Apa sebenarnya kiat Ismed, hingga ia mampu mengubah “Rajawali” yang sakit-sakitan menjadi begitu perkasa untuk terbang melesat begitu tinggi?

Pertama, Ismed berusaha untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya ingin didengar perkataannya, tetapi ingin sepak terjangnya juga bisa diteladani. Dia berusaha untuk tidak hanya memerintah, tetapi juga memberi contoh konkrit.

Mantan Ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM) mengajak seluruh karyawan RNI untuk prihatin dan tidak bermewah-mewah ditengah kondisi perusahaan yang sedang “sakit”. Untuk menegaskan komitmennya, Ismed memilih tidak memakai berbagai fasilitas mewah yang biasa dinikmati anggota dewan direksi.

Dia tidak mengambil fasilitas rumah dinas dan bahkan mengubahnya untuk mess bagi direksi anak perusahaan ketika bertugas di Jakarta. Di mess itu pula Ismed sesekali mampir dan tidur meskipun ada fasilitas penginapan kelas hotel berbintang.

Ismed juga tidak memakai mobil dinas, bahkan sopir peribadi ia gaji dari koceknya sendiri. Fasilitas pesawat untuk direksi tidak lagi di kelas bisnis, tetapi kelas ekonomi. Bahkan uang SPJ (uang saku) yang disediakan kantor pun tidak ia ambil. “Saya cuma makan gaji aja,” tegas mantan wartawan ini.

Komitmennya yang kuat itulah yang kemudian memicu karyawan RNI untuk memiliki semangat dan tekad yang sama. Konsistensinya menggugah kesadaran para anak buah untuk dapat bersama-sama bangkit memajukan perusahaan, untuk merasa malu menerima gaji tetapi tidak memberi kontribusi.

Langkah berikutnya adalah melakukan reformasi birokrasi. Selaku orang nomor satu di RNI, Ismed membuka kesempatan bagi anak-anak muda untuk menjadi bagian transformasi RNI menjadi lebih terbuka. Apalagi, saat ini, rata-rata karyawan berusia antara 35 tahun hingga 40 tahun yang memegang posisi di level kepala bagian.

"Saya sebut sebagai penghilangan lemak-lemak agar lebih ramping. Dulu ada tujuh deputi direksi dan tujuh asisten deputi. Saya hapus 14 posisi itu, dan lebih memaksimalkan peran kepala divisi dan kepala bagian," tutur Ismed.

Ismed meyakini semangat anak-anak muda menjadi kekuatan besar untuk membuat perubahan. Dengan kekuatan anak muda itu, Ismed tidak risau bila masih ada yang tidak mendukung strategi dan kebijakannya. Ia yakin, para pengganggu dipastikan tidak bakal sanggup melawan arah perubahan dan arus transformasi yang berlangsung di tubuh perseroan yang memiliki 15 anak usaha itu.

"Tidak bisa. Anda tidak bisa melawan anak-anak muda yang turut berperan aktif dalam RNI. Mereka adalah anak muda yang idealis, yang selama ini risau dan marah namun tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dan mendapat peran," tegasnya.

Kesungguhan dan komitmennya yang tinggi akhirnya membuahkan hasil gemilang, dan dukungan penuh jajaran karyawan membuat RNI menjelma bak Rajawali perkasa yang terbang melesat ke langit tinggi.

Kinerja RNI yang baik berimbas pula pada kesejahteraan karyawan, dimana RNI telah menetapkan kebijakan yang memastikan bahwa setiap keuntungan yang diraih perusahaan bakal dirasakan juga oleh karyawan yang kini berjumlah 7.339 orang. Dari keuntungan perusahaan yang diraih, karyawan akan menerima kenaikan jasa produksi atau jasprod. Bahkan, karyawan pabrik gula di Malang yang berada dibawah manajemen PT Rajawali I memperoleh jasprod 15 kali gaji.

Berbeda dengan kebanyakan direksi pada umumnya, ditengah geliat RNI, Ismed justru menegaskan komitmennya untuk tidak berlama-lama menjadi bos RNI. Dia menghitung, paling lama duduk di kursi direktur utama hanya 4 tahun. "Idealnya, malah hanya 3 tahun dan tidak mau jika sampai 5 tahun," ujarnya.

Share
Hits: 1568

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share