Retno Iswari Tranggono: Pelopor dan Inspirator “Science of Beauty”

Category: Kiprah Alumni : Senin, 27 Mei 2013

Kiprahnya dibidang kosmetik medis menempatkannya sebagai salah satu tokoh yang disegani, pakar kesehatan kulit tropis sekaligus technopreneur yang tidak hanya mementingkan bisnis melainkan juga aktif mengedukasi masyarakat.

Alumnus FKUI yang akrab dipanggil dr Retno ini meyakini bahwa semangat dan kesungguhan hati untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat akan menjadi energi yang besar dalam menemukan dan menciptakan karya-karya yang berkualitas tinggi. Dan terbukti, PT Ristra Indolab yang dia dirikan diakui sebagai pelopor kosmetik medis dengan produk-produk yang berkualitas, aman dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Ketertarikannya dengan bidang kosmetika bermula ketika pada tingkat V Retno bekerja sebagai pengajar di sebuah institut kecantikan. Dari kegiatannya itu, dia mulai mengenal seluk beluk masalah kosmetika dan semangatnya untuk mendalami bidang kosmetik dermatologi semakin menggebu setelah menyaksikan begitu banyaknya produk-produk kosmetik yang tidak memenuhi standar ilmiah dan bahkan banyak mengandung bahan-bahan berbahaya. Ditambah lagi, penanganan medis terkait kesehatan kulit ketika itu masih merujuk pada referensi peninggalan Belanda yang lebih cocok diterapkan untuk orang Eropa yang memiliki iklim sub-tropis. Hal-hal itulah yang mendorong Retno mengambil program spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin di FKUI---program spesialis yang tidak favorit, karena dianggap tidak ada duitnya, dimana kata “kelamin” seringkali membuat pasien harus sembunyi-sembunyi bertemu dokter.

Minimnya referensi ilmiah terkait kecantikan kulit memaksa Retno harus berusaha keras. Beruntung, Suharto Tranggono, sang suami yang juga alumnus FKUI dan berprofesi sebagai dokter TNI AU, ketika itu bertugas di Beograd ,Yugoslavia, memberinya hadiah kejutan yang sangat berharga, buku berjudul “The Structure and Function of the Skin” karya William Montagna. Buku hadiah dari suami itulah yang menjadi referensi utama bagi Retno untuk mempelajari dan mendalami reaksi kulit pada umumnya dan beragam jenis kulit khususnya terhadap bahan-bahan obat tertentu.

Visinya jauh ke depan, selalu tertantang untuk mewujudkan gagasan-gagasannya yang luput dari perhatian orang lain. Hal itu dibuktikan ketika ia memperjuangkan berdirinya suatu jurusan yang khusus menangani masalah kosmetik dan kecantikan. Ia meyakini di masa depan, kesehatan kulit dan kecantikan akan menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat khususnya bagi kaum wanita. Meskipun diejek dan ditertawakan oleh para koleganya yang menganggap kosmetik dan kecantikan kulit itu urusan tukang salon yang tidak layak masuk ke ranah ilmiah, Retno tetap berkeras dan berhasil meyakinkan Prof. M Djoewari yang ketika itu menjabat Kepala Bagian Kulit dan Kelamin FKUI. Dan pada tanggal 1 April 1970, Sub-Bagian Kosmetik dan Bedah Kulit (kini dikenal sebagai Cosmetodermatologi) diresmikan dan Retno dipercaya untuk memimpinnya.

Dengan posisinya itu, Retno pun memiliki kesempatan untuk membenahi seluruh sistem yang ada dan akhirnya menyusun sebuah proyek dengan dukungan Departemen Kesehatan untuk meningkatkan kualitas salon-salon kecantikan. Pada tahun 1975-1976, Retno juga dipercaya untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan bagi para ahli kecantikan melalui organisasi Konsorsium Pendidikan Tata Kecantikan Kulit dan Rambut hasil kerjasama Persatuan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski) dan Departmen Pendidikan.

Sebagai dosen dan dokter kulit di FKUI/RSCM, Retno banyak menerima keluhan dari masyarakat mengenai ketidak-cocokan pemakaian produk kosmetika. Merasa memiliki tanggung jawab profesi, ia pun mengirim produk-produk kosmetik yang banyak digunakan dokter kulit ke Ditjen Pengawas Obat dan Makanan (sekarang Badan POM) untuk diuji. Hasilnya diketahui bahwa produk-produk tersebut mengandung bahan merkuri dan logam-logam lain yang berbahaya. Ia pun menjadi orang pertama yang beriniatif menguji produk kosmetika yang kemudian menyadarkan pejabat Ditjen POM untuk memasukkannya sebagai produk kesehatan yang harus diawasi peredarannya. Sejak itu pula, Retno terlibat sebagai wakil ketua dan penasehat panitia Pemantauan Efek Sampingan Kosmetika di Ditjen POM.

Banyaknya keluhan dari pasien dan fakta banyaknya produk kosmetik berbahaya membuat Retno menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan penelitian untuk mencari solusi terbaik dibidang perawatan kulit. Awalnya, Retno membuat resep bagi pasien-pasiennya untuk pembuatan obat yang harus diracik dan diramu oleh apoteker. Karena masih tetap ada keluhan dari pasien, dia kemudian memutuskan meracik sendiri produk-produk kosmetika yang dia berikan kepada para pasiennya. Hasilnya mengagumkan, para pasien merasa cocok dengan ramuan produk kosmetik yang diraciknya.

Ia seorang perfeksionis, yang selalu merasa tidak puas atas apa yang sudah ia capai dan selalu melihat celah untuk terus semakin menyempurnakan keahliannya dibidang kesehatan kulit tropis. Ia berguru pada pakar-pakar kosmetik dermatologi internasional, seperti Prof Lubowe dari New York, Prof. Peter Elsner dari Switzerland, dan Dr. Tatsuya Ozawa dari Jepang. Dia pun kian bersemangat memperdalam keahliannya dengan mengikuti berbagai seminar internasional, untuk menggali sekaligus berbagi informasi dengan para pakar. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia pun kemudian menjelma sebagai ilmuwan yang mempelopori kosmetik berbasis medis di Indonesia sekaligus sebagai pakar dibidang kesehatan kulit tropis.

Ia juga seorang profesional idealis. Meskipun semakin banyak rekan seprofesi dan juga apresiasi pasien terhadap produk kecantikan yang ia racik, butuh cukup waktu untuk memasuki wilayah bisnis komersial. Peluang bisnis yang menjanjikan tidak menjadi acuan, dan barulah ia memutuskan memulai bisnis kecantikan ketika ia meyakini apa yang akan ia lakukan akan memberi manfaat bagi masyarakat dan juga bagi ilmu kecantikan medis yang ia perjuangkan.

Tahun 1982, Retno akhirnya meluncurkan produk kosmetik komersialnya dengan merek RISTRA (akronim dari Retno Iswari-Suharto Tranggono), yaitu Acne Lotion dan JJ Foundation. Untuk mendukung gagasan besar sang istri, Suharto Tranggono kemudian memutuskan pensiun dini untuk memimpin menejemen perusahaan. Retno yang fokus di pengembangan produk berhasil inovasi penting dengan mempelopori konsep ph balance dan teknologi nano untuk produk-produk Ristra yang belakangan banyak diikuti produsen-produsen kosmetik lain.

Dan berkat kerja keras dan dedikasinya yang tinggi, melalui PT Ristra Indolab yang ia dirikan, wanita yang meraih penghargaan Entrepreneur of The Year 2001 dari Ernst & Young ini berhasil mengembangkan jaringan gerai kecantikan bernama House of Ristra yang tersebar di berbagai kota di Indonesia--- antara lain di Bandung, Purwokerto, Bogor, Bangka, Jogjakarta, Samarinda, Solo, Bengkulu, Medan dan Jayapura.

Mengusung filosofi The Science of Beauty, kerja keras dan dedikasinya membuat wanita yang tampil penuh semangat ini mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri sebagai pelopor kosmetik medis, sebagai pakar kesehatan kulit tropis, dan sebagai technopreneur handal yang visioner.

 

Share
Hits: 1908

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share