Agus Martowardojo: “Herder” Penjaga Fiskal Hari Ini Resmi Menjadi Gubernur BI

Category: Kiprah Alumni : Selasa, 21 Mei 2013

Hari ini salah satu alumnus terbaik UI, Agus Martowardojo, secara resmi memulai pengabdiannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan seniornya, Darmin Nasution, yang memasuki masa pensiun.

Keberhasilannya sebagai Menteri Keuangan dinilai banyak pihak menjadi besar bagi Agus Marto untuk menduduki posisi sebagai Gubernur BI. Sebagaimana diungkapkan Ketua Komisi XI DPR RI Emir Moeis, Agus merupakan pejaga dan pengawas fiskal yang sangat luar biasa, tegas dan berani.

“Dia adalah herdernya fiskal. Dia benar-benar menjaga fiskal yang sehat, agar tidak boros,” tegas Emir.

Keteguhan sikap Agus Marto tersebut juga diamini oleh juniornya, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar yang juga alumnus UI. Menurut Mahendra, sosok Agus Marto merupakan seorang yang memiliki ketegasan dan integritas, serta profesional yang memiliki disiplin tinggi.

"Ia menjadi keteladanan dan merupakan tokoh pemimpin yang perlu kita banggakan, dan tiru," tutur Mahendra mengenai pribadi seniornya yang pernah dinobatkan menjadi Menteri Keuangan terbaik se-Asia Pasifik versi majalah The Banker pada bulan Januari 2012.

Seperti apa sebenarnya rekam jejak Agus Marto?

Pria bernama lengkap Agus Dermawan Wintarto Martowardojo ini lahir di kota Amsterdam, meski demikian ia memulai pendidikannya di SD Pengudi Luhur Jakarta. Diakuinya, sejak awal minatnya terhadap ilmu ekonomi memang besar, dan karenanya ia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ekonomi UI. Setelah diwisuda sebagai sarjana, Agus Marto melanjutkan pendidikannya dibidang perbankan di State University of New York dan Stanford University di Amerika, lantas melanjutkan ke Institute Banking & Finance di Singapura. Dalam kurun waktu ini, ia tak hanya kuliah sebagaimana biasa, melainkan aktif dalam mengikuti berbagai macam seminar, kursus, pelatihan dan sejenisnya, tentu saja yang berkaitan dengan perbankan. Tak heran jika di usianya yang sangat muda, Agus Marto telah menjadi bankir yang tergolong hebat.

Karir dibidang perbankan dimulai dari Officer Development Program (ODP) di Bank of America, sebagai International Loan Officer. Keluar dari Bank of America tahun 1986, ia langsung dipinang oleh Bank Niaga, sebagai Vice President, Corporate Banking Group di Surabaya dan Jakarta. Karirnya semakin melejit. Setelah setahun menjadi Deputy Chief Executive Officer  Maharani Holding, Agus Marto dipercaya sebagai Presiden Direktur PT Bank Bumiputera (1995),  Presiden Direktur PT Bank Ekspor Impor Indonesia (1998).

Sebagai akibat gerakan reformasi dan dipicu krisis global, terjadi peleburan empat bank menjadi Bank Mandiri. Kredibilitas Agus Marto dipertaruhkan untuk membenahi peleburan empat bank tersebut. Dia bertugas menjadi Direktur Bank Mandiri dengan tanggung jawab manajemen risiko dan restrukturisasi kredit, retail banking dan operations, hingga memegang bagian sumber daya manusia (SDM) pada 1999-2002.


Setelah sempat menjabat sebagai Penasihat Ketua BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Indonesia) pada Oktober 2002,ia diangkat menjadi Presiden Direktur PT Bank Permata Tbk yang merupakan hasil merger lima bank pasien BPPN.

Tahun 2005, Agus Marto diangkat menjadi Direktur Utama Bank Mandiri. Keputusannya menerima jabatan Dirut Bank mandiri dianggap banyak kalangan sebagai langkah berani, mengingat jabatan tersebut telah menyeret pejabat sebelumnya ke penjara akibat berbagai kasus korupsi. Ditambah lagi, usia Agus Marto yang masih tergolong muda dan kondisi intern Bank Mandiri yang kurang menguntungkan. Bank Mandiri, saat itu memiliki kredit bermasalah (non-performing loan, NPL) di atas 20%—jauh melewati ambang batas bank sehat yang seharusnya hanya sebesar 5%. Sejumlah kredit bermasalah yang menjadi prioritasnya adalah utang Grup Kiani dan Garuda Indonesia.

Agus Marto akhirnya mampu menjawab keraguan banyak pihak. Ia berhasil mengelola dan membenahi Bank Mandiri sehingga menjadi bank yang sehat bahkan menjadi bank yang mempunyai aset terbesar di tanah air (Rp 370 T). Indikator lainnya: NPL (Net Performing Loan)  dari 26 % (2006) menjadi 0.42 (2009), laba bersih tahun 2006 sebesar 600 M menjadi Rp 7,2 triliun pada 2009. Hebatnya lagi, di akhir masa jabatannya, saham Bank Mandiri melesat naik hampir 700%---dari Rp. 1.068 per saham pada Oktober 2008 menjadi Rp. 8.350 per saham pada Agustus 2012.

"Seorang pemimpin dituntut untuk dapat memberikan inspirasi bagi bawahannya, sehingga memiliki rasa percaya diri untuk mendukung pimpinan dalam mencapai tujuannya", ungkap Agus Marto dihadapan ribuan ribuan mahasiswa UI pada kuliah terbuka bulan Agustus 2009.

Keberhasilannya memimpin bank terbesar di tanah air itulah yang kemudian membuatnya dipercaya menjadi Menteri Keuangan. Beberapa pihak juga sempat meragukan kemampuannya melanjutkan prestasi seniornya, Sri Mulyani. Dan sekali lagi, Agus Marto berhasil menjawab tuntas keraguan itu.

Selamat berjuang, Pak Agus Marto… semoga selalu menjadi inspirasi bagi generasi bangsa. Amin.

Share
Hits: 3601

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share