Valencia Mieke Randa: Aktivis Kemanusiaan Melalui Jejaring Sosial Media

Category: Kiprah Alumni : Rabu, 08 Mei 2013

Alumni Teknik Mesin UI ini menggagas berdirinya komunitas maya Blood for Life, dimana para anggotanya bersedia dan siap untuk memberikan donor darah secara sukarela kapanpun dibutuhkan.

 

Gerakan kemanusiaan yang digagasnya memperoleh sambutan luar biasa. Awalnya hanya 44 orang yang bergabung, kini lebih dari 36.000 anggota telah bergabung dari berbagai pelosok di tanah air. Dengan anggota sebanyak itu, komunitas Blood For Life menjadi akses yang cepat bagi pasien untuk mendapatkan pendonor pada saat darurat. Tak mengherankan,  Blood for Life pun berhasil terpilih menjadi Google Chrome Web Hero’s Indonesia.

 ”Jejaring sosial ternyata merupakan bagian dari miracle dalam kehidupan saya. Hanya bermodalkan sebuah smart phone, saya bisa menghubungkan mereka yang sangat membutuhkan darah dengan orang-orang yang  rindu berbuat kebaikan dengan menjadi pendonor darah,” ungkap Valencia yang akrab disapa Silly ini.

Pergulatan dan tantangan hidup membuat Silly sampai pada titik kesadaran bahwa makna hidup seseorang adalah ketika seseorang mau dan bisa berbagi dengan orang lain.

Selepas lulus UI, Silly merintis karir di perusahaan logistik asal Jepang. Di tengah karirnya yang menanjak, dia terpaksa berhenti sebagai manajer dan memilih mengasuh anak pertamanya yang didiagnosa mengalami mild-autis dan harus menjalani berbagai terapi. Seiring dengan itu, dia pun mengandung anak keduanya. Silly yang menderita hiperagregasi trombosit atau sindroma darah kental harus keluar masuk rumah sakit. Dia melahirkan dengan selamat, tapi ketika berumur 1,2 tahun mengalami kejang dan sejak itu kemampuan berkomunikasinya hilang. Silly pun harus berjuang lebih keras.

Tidak lama kemudian dia mengandung anak ketiganya dan kembali harus keluar masuk rumah sakit untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi yang dia yakini sebagai anugerah Tuhan. Dia pun kembali ke meja operasi untuk proses kelahiran bayinya. Anak ketiganya kembali menjadi ujian hidupnya: menderita alergi hebat, semua makanan tidak bias diterima tubuhnya kecuali ASI. Dari situlah Silly mulai giat terjun ke jejaring sosial, sering berkonsultasi dan menyimak sharing para ahli melalui internet. Dia pun mulai menuliskan berbagai pengalamannya di blog pribadinya.

Belum tuntas ujian yang dijalaninya, Silly mendapat ujian baru lagi. Dia diagnose mengidap tumor di usus, liver dan didalam rahim (mioma). Ketika dokter mengusulkan operasi pengangkatan tumor, dia merasa sudah hampir putus asa---setelah 7 kali menjalani operasi, sinus 2 kali, melahirkan 3 kali, usus buntu sekali dan infeksi usus sekali.

Di tengah keterpurukan mental tersebut, semangatnya kembali bangkit karena solideritas teman-teman sesame penggiat jejaring sosial. Bahkan komunitas dari Jogja datang menjenguk dan membawa origami 1000 burung yang mewakili 1000 do’a. Di kesempatan lain, seorang ibu menjenguknya dan memberinya jus noni dan meyakinkannya untuk mencoba karena banyak kerabat si ibu berhasil sembuh dengan jus noni. Dan terbukti, rasa sakit yang dideritanya berkurang setelah meminum jus noni dan akhirnya kesehatannya berangsur-angsur semakin membaik.

Solideritas teman-teman jejaring sosial dan kehadiran seorang ibu dengan jus noninya semakin menguatkan keyakinannya betapa indahnya hidup ketika orang mau berbagi. Pada awal tahun 2010, saat memutuskan kembali bekerja dan dipercaya sebagai manajer perusahaan asing dibidang logistik, Silly menggagas dan mendirikan komunitas maya Blood for Life untuk menjembatani mereka yang membutuhkan darah dan mereka yang mau mendonorkan darah secara sukarela. Semangatnya kian menggebu melihat respon dari teman-teman di jejaring sosial. Nama-nama pasien yang masuk pun datang dari berbagai wilayah dan tak jarang Silly bersama teman-temanya terbang ke berbagai pelosol untuk memastikan bantuan sampai pada pasien.

Awal tahun 2011, sang ibu yang dicintainya meninggal dunia akibat gagal ginjal yang mengharuskannya cuci darah 2 kali seminggu. Peristiwa itu mendorongnya untuk berhenti bekerja dan terjun total sebagai pekerja sosial untuk mengembangkan Blood for Life.

Dalam talk show yang disiarkan salah satu stasiun televise swasta pagi ini, Silly berusaha menggugah kesadaran masyarakat pentingnya berbagi untuk sesame.
“Satu kantong darah kita mungkin berarti apa-apa bagi kita, tetapi itu adalah nyawa kehidupan bagi pasien yang membutuhkan,” tutur Silly.

Bagi rekan-rekan alumni UI yang ingin bergabung dengan komunitas Blood for Life, silakan foolow akun twitter @ Blood4LifeID atau akun facebook @ Blood4LifeId.

(Dari berbagai sumber)

Share
Hits: 1600

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share