Sandal Jepit ILUNI UI Untuk AAL

: Rabu, 04 Januari 2012

Jakarta-ILUNI UI Online. Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Iluni FHUI) menyerahkan 500 pasang sandal jepit

ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai bentuk dukungan terhadap AAL, pelajar SMK berusia 15 tahun yang dituduh mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi yang harus diproses hukum ke Pengadilan, di Palu, Sulawesi Tengah.

AAL juga mengalami penganiayaan karena bersama teman-temannya mengaku mencuri sandal jepit itu. Orangtua AAL tidak terima penganiayaan anaknya, sehingga ia melaporkan Briptu Ahmad Rusdi ke Propam Polda Sulteng. Kasus ini juga bergulir sampai ke pengadilan. Mabes Polri berdalih, orangtua AAL lah yang justru ingin membawa kasus ini ke pengadilan, sehingga mendudukkan AAL sebagai terdakwa.

Mendengar kasus AAL yang harus sampai ke pengadilan itu, ILUNI UI dan ILUNI FHUI merasa peduli, karena AAL merupakan bagian dari masyarakat yang dinilainya mengalami ketidakadilan. "Kami bersama-sama teman-teman mengumpulkan sandal jepit untuk diserahkan kepada Kapolri melalui KPAI, kali ini ada 500 pasang sandal jepit yang kita serahkan, kemarin juga sudah kita serahkan," kata Ketua Umum ILUNI UI Dr Hj Chandra Motik Yusuf SH MSc kepada wartawan usai menyerahkan sandal jepit bersama rombongan dari ILUNI UI dan ILUNI FHUI ke KPAI, rabu (4/1),

ILUNI UI dan ILUNI FHUI menyatakan akan mengumpulkan terus sandal jepit ini sampai ada kejelasan tentang status hukum AAL. Setumpuk sandal jepit itu diterima oleh Sekretaris KPAI M Ikhsan, di Posko Sandal Jepit jl Tengku Umar, Menteng Jakarta Pusat.

Chandra Motik yang juga masih menjabat sebagai Ketua Iluni FHUI ini meminta kepada Jaksa maupun Hakim untuk melihat persoalan tidak hanya dengan KUHP, tetapi juga perlu dilihat undang-undang perlindungan anak yang sangat relevan dengan rasa keadilan anak.

"AAl ini kami anggap masih belum cukup umur, sehingga pasal yang menjeratnya justru akan berakibat tidak baik. Memang anak itu salah, tapi jangan lewat pengadilan, mungkin diserahkan kepada orang tuanya untuk dididik," pinta Chandra Motik.

Seperti diketahui, Jaksa dalam dakwaannya menyatakan AAL melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 362 KUHP tentang Pencurian dan diancam 5 tahun penjara. Sementara itu, Polda Sulteng telah menghukum polisi penganiaya AAL. Briptu Ahmad Rusdi dikenai sanksi tahanan 7 hari dan Briptu Simson J Sipayang dihukum 21 hari.

Dalam siding pada rabu (4/1) itu AAL divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Palu. Namun hakim tunggal Rommel F Tampubolon menghukum AAL dengan mengembalikan kepada orangtuanya untuk dilakukan pembinaan.

"Dari fakta persidangan, keterangan saksi-saksi, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana melanggar hukum. Karena itu, pengadilan menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian. Mengingat terdakwa masih muda, terdakwa dikembalikan kepada orang tuanya," kata Rommel F Tampubolon.

Menurut hakim, fakta bahwa sandal tersebut bukan milik Briptu Rusdi, tidak mengesampingkan tindak pidana pencurian yang dilakukan AAL. Atas vonis ini pengacara dan keluarga AAL menyatakan meminta waktu sepekan untuk menyatakan sikap.

Share
Hits: 2185

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share