Profil 7 Penerima ILUNI UI Makara Award 2016

: Sabtu, 20 Februari 2016

Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada alumni UI yang telah memberikan karya dan pengabdian terbaik kepada masyarakat, negara dan bangsa, ILUNI UI memberikan anugerah ILUNI UI Makara Award 2016 kepada 7 tokoh alumni UI pada 19 Februari 2016 di Hotel Dharmawangsa Jakarta.

Pemberian anugerah ILUNI UI Makara Award 2016 ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh ILUNI UI. Dan diharapkan program ini dapat diselenggarakan secara berkala pada masa mendatang, mengingat begitu banyak tokoh-tokoh alumni UI yang terlah memberikan darma bakti terbaiknya di berbagai bidang dan layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.

Berikut profil singkat 7 penerima ILUNI UI Makara Award 2016:


Mochtar Kusumaatmadja, Lifetime Achievement Award

Prof. Mochtar Kusumaatmadja dinilai sebagai tokoh alumni UI yang telah memberikan jasa besar bagi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia, yang karya-karya menjadi tonggak sejarah perjalanan bangsa.

Beliau disebut sebagai “Bapak Wawasan Nusantara”, gagasan dan konsep beliau yang dituangkan dalam Deklarasi Djuanda menjadi pijakan penting dalam usaha menyatukan seluruh wilayah nusantara.

Di awal kemerdekaan, wilayah negara Republik Indonesia masih mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas.

Prof. Mochtar Kusumaatmadja menjadi tokoh sentral dalam memperjuangkan pengakuan masyarakat internasional terhadap prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State), khususnya ketika beliau diberi amanah sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Pembangunan III dan IV. Perjuangan beliau mencapai puncaknya ketika ketika konsepsi negara kepulauan (archipelagic state) diterima oleh masyarakat internasional dan ditetapkan pada Konvensi Hukum Laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Dengan pengakuan tersebut, luas wilayah negara Republik Indonesia yang semula 2.027.087 km² berlipat ganda menjadi 5.455.675.22 km².

Dengan perjuangan Prof. Mochtar Kusumaatmadja bersama kolega-koleganya, antara lain Dr. Hasjim Djalal, Negara Republik Indonesia menjadi negara kesatuan yang utuh. Wilayah laut yang semua menjadi pemisah antar pulau berubah menjadi pemersatu kedaulatan RI, yang mengubah secara drastis peta ekonomi, sosial budaya, politik, keamanan dan pertahanan negara.

Perpaduan seorang diplomat yang piawai, praktisi yang tangguh dan akademisi yang mumpuni, Prof. Mochtar Kusuma-Atmadja menjadi legenda hidup dalam pembangunan hukum nasional. Bukunya yang berjudul “Pengantar Hukum Internasional” menjadi referensi utama dalam bidang pendidikan hukum internasional, sebuah karya penting yang mengabadikan gagasan dan pemikiran, yang akan terus menginspirasi generasi bangsa untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi pembangunan bangsa.


Emil Salim, Humanitarian Achievement Award

Prof. Emil Salim dinilai sebagai tokoh alumni UI yang telah memberikan karya dan pengabdian terbaiknya di dalam usaha mewujudkan kesejahteraan umat manusia, keharmonisan hubungan antara manusia dan lingkungannya.

Ia kerap disebut sebagai “Bapak Lingkungan Hidup”, yang mengabdikan hampir seluruh kariernya untuk meletakkan dasar-dasar perlindungan lingkungan hidup dalam kegiatan perekonomian yang kemudian dikenal dengan konsep “pembangunan berkelanjutan”.

Keterlibatan Prof. Emil Salim dalam pembangunan bidang ekonomi membuat beliau memahami bahwa lingkungan adalah satu hal yang sangat krusial. Beliau melihat perkembangan ekonomi di Indonesia seringkali tidak mempedulikan dampak lingkungan. Oleh karena itu, Presiden Soeharto saat itu membentuk Kementerian Lingkungan Hidup dengan Prof. Emil Salim sebagai menteri pertama sekaligus menjadi orang pertama yang meletakkan dasar-dasar pelestarian hidup dalam pembangunan ekonomi nasional.

Prof. Emil sangat memahami bahwa pembangunan melalui bidang ekonomi memang sangat diperlukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, tetapi perlu pula mempertimbangkan lingkungan dengan melakukan pembatasan eksploitasi sumber daya alam dan pencegahan pencemaran. Inilah yang disebut sebagai konsep pembangunan berkelanjutan. Beliau kemudian memperkenalkan konsep Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yang kemudian menjadi prasyarat utama bagi setiap proyek pembangunan.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri, perjuangan Guru Besar FEUI ini tidak berhenti. Tahun 1994 ia mendirikan dan menjadi Ketua Umum Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) untuk mendukung berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai fasilitas lainnya.

Atas dedikasi dan kontribusinya dibidang pelestarian lingkungan hidup, Prof. Emil Salim mendapat apresiasi dan penghargaan dari dunia internasional; diantaranya Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab (2006) dan Blue Planet Prize ke-15 dari Yayasan Asahi Glass, Jepang (2006). Dan tahun 2012, ia juga mendapat penghargaan The Leader of Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF), penghargaan serupa yang pernah diberikan kepada mantan Sekjen PBB Kofi Annan karena sumbangannya terhadap lingkungan.

 

Educational Achievement Award, Yohannes Surya

Prof. Yohannes Surya dinilai sebagai tokoh alumni UI yang berhasil memberikan kontribusi besar untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Ia mampu menjadi tauladan sekaligus inspirasi bagi para guru dan pendidik untuk berjuang memberikan karya dan pengabdian terbaik.

Ia merupakan tokoh dibalik keberhasilan putra-putri Indonesia meraih prestasi mengagumkan dalam berbagai ajang olimpiade Sains Internasional. Pengabdiannya dalam mencerdaskan anak bangsa sungguh inspiratif. Ia bekerjasama dengan pemda-pemda daerah tertinggal mengembangkan matematika GASING (Gampang Asyik dan menyenangkan), dimana anak-anak daerah tertinggal itu dapat belajar matematika dengan mudah.

Lulusan Departemen Fisika FMIPA UI tahun 1986 ini, setelah meraih gelar Doktor dari College of William and Mary – USA dan sudah memiliki Greencard (ijin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), memilih pulang ke Indonesia dengan tujuan ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika (semboyannya waktu itu adalah “Go Get Gold”) serta mengembangkan fisika di Indonesia.

Pulang dari Amerika, disamping melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Prof. Surya menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir (tahun 1995–1998). Dari tahun 1993 hingga 2007 siswa-siswa binaannya berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Pada tahun 2006, seorang siswa binaannya meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.

Sejak 2000, Prof. Surya banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia, di ibukota kabupaten/kotamadya, sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke, termasuk pesantren-pesantren.

Prof. Surya merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika/Matematika. Ada 68 buku sudah ditulis untuk siswa SD sampai SMA. Selain menulis buku, ia juga menulis ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, harian KOMPAS, TEMPO, Media Indonesia dan lain-lain. Ia juga pencetus istilah MESTAKUNG dan tiga hukum Mestakung, serta pencetus pembelajaran Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan).

Selama berkarir di bidang pengembangan fisika, Prof. Surya pernah mendapatkan berbagai award/fellowship antara lain CEBAF/SURA award AS ’92-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika), penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas, anugerah Lencana Satya Wira Karya (2006) dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun yang sama, ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam bidang pendidikan untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush.

Pada tahun 2007, ia menulis buku ”Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia” yang mendapatkan penghargaan sebagai penulis Best Seller tercepat di Indonesia. Dan tahun 2008 mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO. Yohanes Surya juga mendapatkan banyak penghargaan dari Menpora, Radio Elshinta, Harian Merdeka, Metro TV Award, Penghargaan ”Icon anak Muda” dari Radio Trax FM, Koran Jakarta Award, Penghargaan Harian Republika sebagai ”Tokoh perubahaan 2009, Penghargaan Seputar Indonesia Social Transformer 2011, Sakti Award 2012, BNSP Competency Award 2012 kategori Tokoh Pendidikan Akademisi dan Soegeng Sarjadi Award on Good Governance 2013 kategori Tokoh Inspirator Publik untuk Kemajuan Sains.

 

Scientific Achievement Award, Terry Mart

Prof. Terry Mart dinilai sebagai tokoh alumni UI yang memiliki prestasi hebat dibidang pengembangan ilmu pengetahuan yang karya-karya diakui oleh dunia internasional dan banyak memperoleh penghargaan-penghargaan bergengsi di tingkat nasional.

Prof. Terry Mart adalah Ilmuwan Fisika Nuklir dan Partikel yang kapakarannya diakui oleh dunia internasional. Beliau adalah salah satu dari segelintir ilmuwan yang setia menekuni riset fisika dasar yang “rumit” dan selama ini dianggap tidak memiliki prospek ekonomis yang baik bagi penelitinya. Dan Guru Besar UI ini mampu mematahkan anggapan tersebut, setelah menekuni bidang Fisika Nuklir dan Partikel Teoretis sejak 20 tahun lalu, Prof. Terry Mart kini menjadi orang yang kaya ilmu dan dipandang oleh komunitas ilmuwan fisika di tingkat dunia.

Berbagai penghargaan bergensi beliau raih baik di tingkat nasional maupun internasional. The Best Young Researcher Award UI 1997 ini antara lain mendapat anugerah penghargaan Habibie Award 2001, Outstanding Southeast Asian Scientists dari South East Asia-European Union Network tahun 2009, dan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009.

Prof. Terry Mart juga berhasil melakukan terobosan penting untuk mensiasati iklim riset yang kurang kondusif di dalam negeri, baik fasilitas maupun pendanaan. Beliau sukses menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga riset di luar negeri. Setidaknya ada lima universitas di empat negara yang menerimanya sebagai peneliti tamu dan menanggung semua biaya riset dan perjalanan: George Washington University, AS; Okayama University of Science, Jepang; Tohoku University, Jepang; Universitat Mainz, Jerman; Univeristy of Stellenbosch, Afrika Selatan.

Dedikasi dan semangat nasionalisme Prof Terry Mart layak menjadi inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan muda. Meskipun penelitiannya kerap melakukan penelitian di luar negeri dan memperoleh berbagai fasilitras, tidak tebersit sedikit pun keinginan beliau untuk hijrah ke negeri orang. Justru hasil penelitian di luar negeri menjadi ”oleh-oleh” untuk diteliti lebih lanjut para mahasiswanya menjadi bahan tesis.


Health Achievement Award, Boenjamin Setiawan

Dr. Boenjamin Setiawan dinilai sebagai tokoh alumni UI yang memiliki dedikasi tinggi dan prestasi besar di dunia kesehatan. Karya dan pengabdiannya memberikan pengaruh besar dalam pembangunan nasional bidang kesehatan serta dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Dr. Boen, panggilan akrabnya, adalah seorang pionir di industri farmasi nasional, merintis berdirinya PT Kalbe Farma ketika masih menjadi dosen di FKUI. Group Kalbe yang ia dirikan menjadi satu-satunya industri farmasi besar nasional yang mampu menembus pasar internasional dan bersaing dengan perusahaan farmasi global.

Perhatian dan komitmennya yang besar di bidang riset kesehatan berhasil menempatkan Kalbe Farma berada di baris terdepan dalam industri farmasi nasional. Perusahaan yang didirikan dr Boen ini mengalokasikan 1.5 persen dari keuntungan perusahaan untuk dana penelitian dan pengembangan, mencapai hampir Rp 180 milyar per tahun, dimana lebih dari 70% dana tersebut dialokasikan untuk penelitian bidang kesehatan.

Dr. Boen dinilai sebagai tokoh penting dalam pengembangan sel punca (stem cell). Beliau memandang, bila Indonesia dapat segera mengembangkan konsep pengobatan dengan sel punca, maka Indonesia bisa lebih unggul di banding negara-negara lain yang juga baru mengembangan metode pengobatan dengan sel punca.

Bersama para koleganya, Dr. Boen kemudian mendirikan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) dan Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO). Pada tahun 2006, Dr. Boen mendirikan Stem Cell and Cancer Institute (SCI) yang menjadi pusat riset sel punca dan kanker dan turut berpartisipasi dalam berbagai riset internasional. Tahun 2009, SCI mendirikan Kalbe Genomics (KalGen), laboratorium diagnostik molecular canggih pertama di Indonesia. Melalui SCI, Kalbe Farma mendapat izin resmi dari Kementerian Kesehatan RI untuk mengembangkan produk sel punca.

Perjuangan Dr. Boen membuahkan hasil gemilang. Produk sel punca pertama telah siap memasuki uji praklinis. Diharapkan, pada tahun 2009, sel punca produksi Indonesia sudah dapat dinikmati rakyat Indonesia dan akan lompatan bersejarah dalam dunia kesehatan Indonesia.

“Inovasi ini terbukti bisa menyembuhkan beberapa penyakit, yang dianggap tidak bisa disembuhkan lagi, seperti penyakit diabetes melitus, stroke, jantung, gangguan saraf, dan leukemia,” tegas Prof. Faridz A Moeloek, Ketua Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Jaringan.

 

Social Entrepreneur Award, Moeryati Soedibyo

Dr. Moeryati Soedibyo dinilai sebahai tokoh alumni UI yang memiliki prestasi hebat di dalam usaha pemberdayaan masyarakat. Rekam jejaknya dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan potensi dan kemampuan terbaiknya.

Lulusan Program Doktor UI ini dkenal luas sebagai pionir dalam industri kecantikan di Indonesia. Ibu berhasil mengangkat ke permukaan kembali sebuah warisan tradisional nenek moyang dari lingkungan Kraton Jawa yang hampir tergerus, bahkan dilupakan masyarakat sebagai bagian utuh yang tak terpisahkan dari perawatan kesehatan dan kecantikan tubuh.

Peraih penghargaan Best Of The Best Entrepreneur of The Year dari Ernest &Young, di Monte Carlo, Monaco pada tahun 2003, ini menjadi tokoh sebenarnya dari emansipasi wanita, yang berhasil mendobrak stigma “ibu rumah tangga” pada jamannya dan mampu menjadi tauladan serta inspirasi bagi kaum wanita Indonesia untuk berjuang agar mampu berdiri sejajar dengan kaum pria dalam memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Untuk melecut wanita-wanita muda Indonesia di dalam mengembangkan potensi dan kemampuannya, Ibu Moer mendirikan Yayasan Putri Indonesia, sebagai penyelenggara kontes kecantikan dengan konsep “Brain, Beauty, Behaviour”. Kontes yang diselenggarakan sejak tahun 1992 ini menjadi even nasional dan berhasil membangkitkan semangat wanita-wanita muda Indonesia untuk membangun karakter unggul, sportivitas, kepribadian yang berkebudayaan, jiwa dan semangat kebangsaan.


Creative Industry Achievement Award, Erwin Gutawa

Erwin Gutawa dinilai sebagai alumni muda UI yang memiliki komitmen kuat di dalam mendedikasikan hidupnya di bidang industri kreatif, tokoh yang mampu menginspirasi kaum muda melalui rekam jejak dan karya-karyanya.

Erwin Gutawa merupakan salah satu musisi papan atas di Indonesia. Karya-karyanya berhasil mengantarkannya meraih penghargaan bergengsi baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga merupakan salah satu musisi yang memiliki semangat nasionalisme, yang memiliki keperdulian tinggi untuk kemajuan musik Indonesia. Melalui proyek ‘Diatas Rata-Rata’, Erwin Gutawa berusaha mengorbitkan tunas-tunas bangsa yang berpotensi untuk dapat pentas di panggung dunia.

Dalam karir musiknya, Erwin menerima berbagai penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri. Diantara ia dinobatkan sebagai Penata Musik Terbaik Versi BASF (1989), Penata Musik Terbaik Midnight Sun Song Festival Finlandia (1992), Penata Musik dan Produser Terbaik AMI untuk Album Kala Cinta Menggoda (1997-1998), Penata Musik Terbaik AMI Album Badai Pasti Berlalu (2000), Penata Musik Terbaik AMI Album Instrumentalia (2001), Penata Musik Terbaik AMI Lagu Biarlah Menjadi Kenangan (2001), dan Penata Musik Terbaik versi Majalah News Musik (2001).

 

Share
Hits: 2877

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share