Alumni Salemba: Penggagas dan Penggerak Kongres Sumpah Pemuda 1928

: Senin, 28 Oktober 2013

Hari ini 85 tahun lalu, para mahasiswa Recht Hogeschool (RHS---yang menjadi cikal bakal Fakultas Hukum UI) dan Geneeskundige Hogeschool (GHS---yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran UI) bersatu dan memprakarsai Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Kongres Pemuda 1928 diketuai oleh Sugondo Djojopuspito, mahasiswa RHS yang kemudian hanya sampai di tingkat C1 (setara sarjana muda), karena beasiswanya dicabut sebagai akibat dari tulisan-tulisannya yang menentang Belanda. Berikutnya adalah Mohammad Yamin (RHS) sebagai Sekretaris, Amir Syarifuddin (RHS) sebagai Bendahara,  Johan Mohammad Cai (Pembantu I ---Jong Islamieten Bond), R. Katjasoengkana (Pembantu II---Pemoeda Indonesia), R.C.I. Sendoek Pembantu III---(Jong Celebes) Johannes Leimena (Pembantu IV---GHS/Jong Ambon) Mohammad Rochjani Su'ud (Pembantu V---Pemoeda Kaoem Betawi).

Selain tokoh-tokoh di atas, mahasiswa/alumni RHS yang terlibat aktif dalam kepanitiaan diantaranya Mohammad Roem, Abu Hanifah, Soenario, Kasman Singodimedjo, Koentjoro Poerbopranoto, dan lain-lain. Sementara dari GHS diantaranya Bahder Djohan, Adnan Kapau Gani, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Muwardi, dan lain-lain.

 

Kongres Pemuda 1928

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Pelaksanaan kongres pun harus dilakukan secara hati-hati dan dengan berbagai trik, karena terus mendapat pengawasan secara ketat dari P.I.D (polisi rahasia Belanda).

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Mohammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Ketika Sunario tengah pidato, Mohammad Yamin menuliskan rumusan Sumpah Pemuda pada secarik kertas yang kemudian disodorkan kepada Sugondo Djojopuspito sambil berbisik, “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini).” Soegondo membubuhi paraf setuju pada rumusan tersebut, kemudian diteruskan ke panitia yang lain untuk mendapatkan paraf setuju. Sumpah tersebut selanjutnya dibacakan oleh Soegondo selaku Ketua Kongres dan dijelaskan panjang lebar oleh Mohammad Yamin.

    Pertama
    Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
    Kedoewa
    Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
    Ketiga
    Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Detik-detik dibacakannya Sumpah Pemuda adalah detik-detik kelahiran Indonesia, sumpah yang kemudian meluas dan menjiwai berbagai bentuk pergerakan untuk mencapai cita-cita Merdeka.

Pada penutupan kongres itu pula, lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ciptaan WR Soepratman untuk pertama kali diperdengarkan. Karena banyak kata “Indonesia” dan “merdeka” dalam syairnya, untuk menghindari kecurigaan para polisi rahasia Belanda, Soegondo meminta WR Soepratman membawakan lagu “Indonesia Raya” dengan biola dan syair.

Share
Hits: 3055

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share