Mengenang Alumni UI Dalam Jejak-Jejak Kemerdekaan

: Sabtu, 17 Agustus 2013

Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari semangat nasionalisme yang disemai dan dikobarkan oleh alumni STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan RHS (Rechthogenschool) yang menjadi cikal bakal Universitas Indonesia.

Dimulai dengan organisasi Budi Utomo, yang digagas oleh Wahidin Sudirohusodo dan didirikan oleh dr. Sutomo bersama para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Meskipun bukan organisasi politik, melainkan bersifat sosial-ekonomi-kebudayaan, namun Budi Utomo menjadi titik awal kesadaran kaum intelektual muda untuk memikirkan nasib bangsanya dan kemudian menjadi inspirasi lahirnya organisasi-organisasi kebangsaan.

Berdirinya Rechsschool (RS), yang kemudian berubah menjadi Rechthogenschool (RHS) atau sekolah tinggi hukum, seakan menjadi pemantik lahirnya tokoh-tokoh intelektual muda yang progresif, yang semakin terang-terangan mengobarkan pemikiran dan cita-cita kemerdekaan. Para mahasiswa RHS kemudian membentuk wadah perkumpulan antar-ras yang sekular-nasionalis dalam Perhimpoenan Peladjar-peladjar Indonesia (PPI) pada 1927, disamping para mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Sumateranen Bond, dan lain-lain.

Tahun 1928, mahasiswa RHS mematangkan rencana kongres pemuda yang sempat gagal digelar dua tahun sebelumnya, yang dipelopori oleh Mohammad Yamin, Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifudin, dan lain-lain. Dan pada tanggal 28 Oktober 1928, para intelektual muda ini berhasil menggelar kongres pemuda yang berhasil menyatukan organisasi kepemudaan ketika itu, diantaranya Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi.

Ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres, Yamin sebagai sekretaris kongres menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo sebagai ketua seraya berbisik, “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini)”. Soegondo kemudian membacakan Sumpah Pemuda yang disusun M Yamin---satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa; Indonesia---yang menjadi bukti otentik lahirnya Indonesia.

Mahasiswa dan alumni RHS dan STOVIA telah memberikan peran besarnya dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Selama persiapan kemerdekaan, alumni RS/RHS menjadi tokoh penting dalam perumusan UUD 1945; diantaranya Soepomo (RS 1923), Muhammad Yamin (RHS 1932), Djoko Soetono (RHS 1938),  Iwa Kusuma Sumatri (RS 1921), R Soeprapto (RS 1917), R Koesoemah Atmadja (RS 1919), dam lain-lain. Dan atas konsepnya tentang negara integralistik yang menjadi landasan perumusan UUD 1945, Soepomo disebut-sebut sebagai Arsitek UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Pada masa awal kemerdekaan, banyak alumni RS/RHS dan STOVIA yang dipercaya mengamban jabatan strategis dalam pemerintahan. Diantara alumni RS/RHS itu adalah Supomo, Mohammad Yamin, R. Soeprapto, Iwa Kusuma Sumantri, Mohammad Roem, Koesoemah Atmadja, Djokosoetono, R.  Sjafroedin Prawiranegara, dan lain-lain. Sementara alumni STOVIA diantaranya adalah AK Gani, Dr. Johannes Leimena, Abdul Halim, dan lain-lain.

Semangat cinta tanah air tak henti disemaikan di kampus UI dan lahirlah tokoh-tokoh cendekiawan yang berperan besar menentukan arah perjalanan bangsa---diantaranya Soemitro Djojohadikusumo dan Widjojo Nitisastro di bidang ekonomi, Mochtar Koesoema-atmadja, pakar hukum laut yang mencetuskan konsep Negara kepulauan dan Wawasan Nusantara, Adnan Buyung Nasution dibidang hukum dan HAM, Emil Salim dibidang lingkungan hidup, Sujudi dibidang kesehatan, Akbar Tandjung dibidang politik dan pemerintahan, dan tokoh-tokoh lainnya yang tak dapat disebut satu per satu.

Tokoh-tokoh muda pun terus lahir dari kampus UI untuk meneruskan perjuangan tokoh-tokoh senior dalam mengabdikan diri memajukan bangsa---diantaranya Sri Mulyani Indrawati,  Agus Martowardoyo dan M Chatib Bisri dibidang ekonomi, Todung Mulya Lubis dan Jimly Ashidiqqi dibidang hukum dan HAM, Nafsiah Mboi dibidang kesehatan, dan tokoh-tokoh muda lainnya di berbagai bidang strategis.

Dan sudah seharusnya alumni UI mewarisi jiwa nasionalisme dan semangat pengabdian para senior. Ada satu kata “keramat” yang diamanatkan kepada seluruh alumni UI---INDONESIA.

Selamat Berjuang Alumni UI, dan Dirgahayu INDONESIA.

Share
Hits: 1846

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share