Rumbi: “Srikandi Migas” Yang Mencari Keadilan

: Jum'at, 21 Juni 2013

Endah Rumbiyanti, alumni Fakultas Teknik UI (1997) bukanlah seorang pesohor atau tokoh migas yang wajahnya sering menghiasi halaman-halaman media massa. Nama serta merta menyedot perhatian publik ketika ia ditetapkan sebagai tersangka TIPIKOR kasus bioremediasi.

 

Ia hanya seorang karyawan biasa, dengan jabatan terakhir sebagai Manager HES Lingkungan Sumatera Operations PT Chevron, itupun setelah mengabdi selama 15 tahun di perusahaan migas tersebut. Menurut temuan Komnas HAM, ia tak layak dijadikan tersangka kasus bioremediasi yang ditaksir Kejaksaan Agung merugikan negara sekitar Rp 200 milyar. Dan banyak pengamat serta ahli hukum menyebut kasus itu sebagai “aib bagi dunia hukum di Indonesia” dan Rumbi dianggap sebagai “korban kezaliman”. Kasusnya itu mengingatkan saya pada kasus buruh Marsinah yang mengharu biru jagat hukum nasional, sebuah aib yang akan dikenang sepanjang masa.

Siapa Sih Rumbi ?

Ia wanita cerdas yang penuh semangat. Tahun 1993 ia menjadi lulusan SMA terbaik di Provinsi Riau. Rumbi kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik UI dan aktif di kegiatan kemahasiswaan. Prestasi akademiknya terbilang mengagumkan, hingga ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan FTUI tahun 1997.

Chevron (yang dulu bernama Caltex) memiliki arti penting dalam hidup Rumbi. Almarhum ayahnya adalah pegawai Chevron dan Rumbi pun dibesarkan di lingkungan Chevron. Ia begitu kagum dengan sosok sang ayah, yang memiliki integritas dan kejujuran, yang mampu memberi penghidupan layak bagi keluarga. Demikian juga dengan Chevron, yang ia nilai memiliki kepedulian pada lingkungan, memiliki perhatian yang baik pada pegawai dan penduduk sekitar. Karena itu, setelah lulus dari FTUI ia memantapkan pilihannya untuk bekerja di Chevron.

Ia sosok wanita karir yang tidak melupakan kodratnya sebagai istri bagi suami dan ibu bagi kelima anaknya. Ditengah kesibukannya bekerja, ia tetap berusaha keras melaksanakan kewajibannya untuk mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kemandirian dan kesederhanaan.

Adalah sebuah kebanggaan baginya dapat menjadi bagian dari Chevron, yang menyumbang sekitar 40% dari produksi minyak nasional. Ia merasa bekerja di Chevron juga sebagai bentuk pengabdiannya pada bangsa dan negara. Terlebih ketika ia mulai ditugaskan dibidang lingkungan yang hasilnya kelak akan sangat menentukan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar tambang.

Karena kinerjanya yang baik, sebagai bagian dari program pengembangan karir, Rumbi ditugaskan di Chevron Energy Technology Company di Amerika Serikat dari tahun 2005 hingga tahun 2006. Kemudian awal tahun 2008 ia mendapat penugasan kerja di Chevron Environmental Management Company hingga pertengahan tahun 2010, dimana ia banyak belajar mengadobsi teknologi dari luar negeri, khusus terkait manajemen lingkungan hidup. Dan pada 1 Juni 2011, melalui seleksi yang ketat, Rumbi kemudian terpilih sebagai Manager HES Lingkungan Sumatera Operations.

Dukungan untuk Rumbi dkk dari dalam dan luar negeriDukungan untuk Rumbi dkk dari dalam dan luar negeri

Awal Mula Rumbi Tersangkut Kasus Bioremediasi

Kasus bioremedia (proyek pemulihan/recovery tanah yang terkena limbah penambangan minyak) PT Chevron Pasifik Indonesia di Riau mulai disidik Kejaksaan Agung pada tanggal 12 Maret 2012, dengan kerugian ditaksir mencapai US$ 23,361 juta atau sekitar Rp200 miliar.

Pada bulan Desember 2011, belum genap 6 bulan menjabat Manajer, Rumbi ditugaskan manajemen Chevron untuk memberikan penjelasan mengenai bioremediasi dan bagaimana pelaksanaannya di Chevron. Ia pun harus menjalankan tugas dari perusahaan, menjelaskan kepada Kejaksaan Agung sesuai dengan aktivitas bioremediasi yang dilaksanakan di wilayah operasi Chevron, berdasarkan ilmu yang dipelajari dan masukan dari rekan-rekan kerja di lapangan.

Entah bagaimana proses yang belangsung di Kejaksaan Agung, Rumbi yang hanya sekali memberikan penjelasan dan itu ditugaskan oleh manajemen perusahaan, tiba-tiba pada tanggal 16 Maret 2012, melalui berita di website Kejaksaan Agung, ia ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana  korupsi kasus Bioremediasi bersama beberapa nama lainnya.

Setelah enam bulan ditetapkan sebagai tersangka, ia baru dipanggil oleh Kejaksaan Agung untuk pemeriksaan. Dalam pemeriksaan itu, Jaksa Penyidik pertama kali menanyakan tentang pengadaan. Rumbi pun menjawab bahwa dirinya tidak tahu sama sekali, karena bukan bagiannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan tim yang dipimpinnya. Para Jaksa Penyidik lalu saling berpandangan dan menanyakan, “Kenapa Ibu ada di sini?” Rumbi pun menjaawab dengan bertanya, “Lho kan pihak bapak yang menetapkan saya sebagai tersangka?”  

Pada pemeriksaan itu juga, sesaat setelah Jaksa Penyidik memperbolehkan dirinya pulang, tiba-tiba ada pengumuman perintah penahanan. Rumbi diperintahkan untuk di tahan di Rutan Pondok Bambu, namun saat diantar, Rutan Pondok Bambu tidak bisa menerima dan harus dipindahkan malam itu juga ke rutan lain. Kejaksaan Agung pun panik dan akhirnya menitipkan Rumbi  di rutan Kejaksaan Tinggi Jakarta Selatan, dimana itu adalah rutan untuk laki-laki dengan kondisi tanpa alas tidur dan ventilasi.

“Saya baru dapat masuk ruang tahanan pukul 1:30 dini hari. Suami saya harus memastikan kamar dapat dikunci, namun apa daya, 30 menit setelah suami saya pulang, saya diganggu oleh beberapa orang hingga dua kali yang hingga kini saya tidak tahu siapa mereka,” ungkap Rumbi dalam pledoi yang disampaikan pada hari Rabu kemarin. “Saya dan suami, selalu saling mengingatkan, jalankan tanpa tangis serta tetap tersenyum - ini terinspirasi oleh didikan orangtua saya yang mengajarkan bahwa kita ini bukan bangsa pengecut. Jalani semua tantangan demi kebenaran.”

Masa-masa pahit terus berlanjut. Rumbi terpaksa memindahkan sementara anak bungsunya ke Jakarta, sedangkan keempat anaknya yang lain terpaksa dititipkan kepada beberapa keluarga di Duri – Riau. Sang ibu yang penuh kasih inipun tidak bisa lagi mendampingi anak-anaknya, terutama si bungsu saat terjaga di tengah malam. Suatu kali, putra bungsunya yang baru berusia 2,5 tahun mengunjunginya di penjara dan memeluk ibunya begitu erat ketika petugas seragam mendekat, karena ia tahu ia harus segera berpisah dengan ibunya.

Tapi Rumbi, Srikandi ini tetap tabah dan tidak menyerah, menjalani hari-harinya di rutan Pondok Bambu sebagai tahanan titipan, diperlakukan bak narapadida bersama 24-30 orang di dalam ruangan 4 X 8 meter persegi, tidur di lantai tanpa ada tempat tidur yang layak.

Tidak seperti biasanya, tahanan tindak pidana korupsi umumnya menempati “kamar khusus”. Hal itu sempat ditanyakan Indra Mulyabudiwan, staff legal PT Chevron, saat mengunjungi Rumbi---pertanyaan yang juga sempat ditanyakan Jaksa Penyidik.

Wanita tegar ini dengan tegas menjawab, “Itulah yang membedakan saya dengan koruptor sejati.”

Mendengar jawaban itu, Jaksa Penyidik langsung terdiam sementara satu orang rekannya meninggalkan ruangan tanpa berkata-kata.

Anehnya, selama dipenjara selama 63 hari, Rumbi baru sekali diperiksa kejaksaan sebagai saksi, pada hari ke-20 penahanannya. Setelah itu, ia didiamkan saja di penjara hingga akhirnya dibebaskan pada tanggal 28 November 2012, berdasarkan putusan praperadilan tanggal 27 November 2012 yang memutuskan untuk membebaskan Rumbi saat itu juga, karena penahanan yang tidak sah dan tidak adanya bukti-bukti yang mendukung tuduhan. Putusan itu juga memerintahkan agar Kejaksaan Agung mengembalikan nama baik dan harkat martabat tersangka---yang hingga kini tak pernah diindahkan Kejaksaan Agung. Dan anehnya lagi, Kejaksaan Agung ngotot meneruskan kasus Rumbi ke pengadilan.


Dukungan Untuk Rumbi Terus Mengalir

Kasus Rumbi semakin aneh. Umumnya karyawan yang diduga melakukan korupsi, semestinya ia “diasingkan” oleh perusahaan dan teman-teman karyawan. Tetapi Rumbi justru mendapat dukungan dari perusahaannya, mendapat dukungan dan simpati dari teman-teman karyawan di Chevron---tidak hanya yang di Indonesia, tetapi juga yang di luar negeri.

Kasus Rumbi cs pun berubah menjadi bola liar dan menarik perhatian dunia internasional. Komnas HAM mengakui menerima surat dari PBB dan Kedutaan Amerika Serikat yang mempertanyakan kasus Rumbi cs.

Setelah mendapat penjelasan dari Rumbi, ILUNI UI Pusat memutuskan untuk mendukung langkah-langkah Rumbi mencari keadilan. Tim ILUNI UI yang dipimpin Rudy Johannes mendatangi Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial untuk memberikan data dan informasi terkait kasus Rumbi.

Dukungan ILUNI UI menemukan momentum ketika, pada tanggal 21 Mei 2013, Komnas HAM merilis termuannya terkait kasus bioremediasi bahwa Komnas HAM menemukan empat aspek HAM yang dilanggar dari 11 variabel pelanggaran.

Tim ILUNI UI pun bersama 5 ikatan perguruan tinggi lain bergerak menemui Komisi III DPR RI untuk menyampaikan temuan Komnas HAM. Berita selengkapnya dapat dibaca di ILUNI UI Konsisten Mengawal Kasus Bioremediasi Chevron Selanjutnya, Tim ILUNI UI mendatangi Komnas HAM mempertanyakan kelanjutan dari rekomendasi yang telah dirilis (ILUNI Sambangi Komnas HAM Terkait Kasus Bioremediasi Chevron).

Rumbi bersama Tim ILUNI UIRumbi bersama Tim ILUNI UIApakah salah bila saya….?

Natalius Pigai, Komisioner Komnas HAM mengatakan bahwa ditetapkannya Rumbi sebagai tersangka merupakan sebuah kejanggalan. Selain pada saat proyek bioremediasi dijalankan dimana Rumbi tengah ditugaskan ke luar negeri, Rumbi yang diangkat menjadi Manajer (sekitar 3 bulan setelah kasus itu mulai disidik Kejaksaan Agung) dinilai tidak tepat untuk bertanggung jawab atas proyek tersebut. Menurut Pigai, level jabatan diatas Rumbi yang seharusnya bertanggung jawab.

Begitu banyak pertanyaan muncul yang tak terjawab. Demikian pula halnya Rumbi, yang tak mengerti kenapa dirinya harus duduk di kursi pesakitan. Berikut mari kita simak penggalan pledoi Rumbi yang dibacakan di ruang sidang pada Rabu, 19 Juni 2013, lalu.

Untuk itu saya memohon Yang Mulia untuk saat ini menatap mata saya. Apakah saya layak didakwa sebagai seseorang yang mencuri uang negara? Apakah masuk akal bila seorang Rumbi yang tidak ada di Indonesia dari kurun waktu 2005-2010 menghilangkan uang negara sebesar uang yang dikeluarkanuntuk pekerjaan di ujung kontrak? Bertanggung jawab untuk suatu kegiatan di periode 2006-2011? Apakah seorang yang baru bertugas 6 bulan tanpa kewenangan terhadap proyek, pelaksanaan, pembiayaan dan pembayaran dapat menyebabkan uang negara hilang tanpa ada sangkut pautnya dengan proyek tersebut di kurun enam tahun sebelumnya? Apakah salah, bila saya sebagai karyawan memenuhi perintah atasan untuk ditugaskan berbagi ilmu ke Kejaksaan? Apakah salah seorang karyawan memenuhi tugas-tugas sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi yang digariskan Perusahaan padanya? Apakah salah sebagai pekerja, saya mempercayai sepenuhnya bahwa KLH adalah lembaga yang berwenang dalam penegakkan hukum lingkungan yang telah menyatakan TAAT bagi kegiatan bioremediasi yang dijalankan perusahaan tempat saya bekerja? Apakah salah bila saya sebagai pekerja bekerja dalam sistem multilevel review terhadap laporan perizinan bioremediasi yang keluar dengan persetujuan atasan saya?


Teruslah berjuang, sahabat, untuk membuktikan kebenaran yang engkau yakini. Bila engkau berlian, yakinlah, pesonamu tak akan pudar meskipun dilempar ke comberan.
(Agus Sutarto)

PLEDOI Endah Rumbiyanti selengkapnya dapat di-download DISINI.

Share
Hits: 4203

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share