Dr. Retno: Kita Harus Bijak Memilih Produk Kosmetik

: Minggu, 02 Juni 2013

Pakar Cosmetodermatologi ini merasa prihatin atas banyaknya produk-produk kosmetik yang justru berpotensi membahayakan kesehatan kulit. Faktanya, masih banyak masyarakat yang tergoda ingin menjadi cantik secara instan.

 

Dalam wawancara dengan ILUNI UI di Grand House of Ristra hari Rabu, 29/5, dr. Retno Iswari Tranggono merasa prihatin karena kembali maraknya produk-produk kosmetik impor yang banyak mengandung zat-zat berbahaya. Hal yang juga terjadi pada awal tahun 1970-an, tetapi sekarang dengan cara yang lebih massif karena derasnya arus informasi.

Menurut pakar kesehatan kulit tropis ini, untuk menjadi cantik, orang harus mengenal dan memahami karakter dan fungsi kulit. Tuhan menciptakan kulit manusia dengan tujuan yang jelas, agar manusia dapat beradaptasi dengan lingkungan dimana dia hidup. Maka faktor kesehatan yang semestinya menjadi perhatian utama.

Permasalahan muncul ketika seseorang “berusaha menolak” takdir. Orang kulit tan (coklat tembaga) yang hidup di iklim tropis seperti di Indonesia ingin memiliki kulit putih bule seperti orang yang di iklim sub-tropis seperti Eropa, karena menganggap kulit putih bule itu cantik. Sebaliknya, banyak orang berkulit putih menganggap kulit tan itu adalah kulit yang sehat dan eksotis, sehingga mereka berusaha untuk memiliki kulit coklat dengan cara berjemur di terik matahari.

“Orang bule atau ras Caucasia yang secara genetis berkulit putih, melanosomnya (butiran pigmen) kecil, struktur melanin-nya (sel penghasil warna kulit) kecil-kecil dan berwarna coklat muda. Sedangkan orang Indonesia atau Asia yang berkulit coklat, melosomnya besar-besar dan berwarna coklat tua,” tutur dr. Retno.

Perbedaan karakter kulit tersebut seharusnya menjadi anugerah Tuhan agar manusia dapat beradaptasi dengan lingkungan alam.

“Kita memiliki perbedaan iklim. Di Indonesia yang terletak di garis katulistiwa, sinar matahari langsung mengenai kulit kita setiap hari. Kalau di negara-negara sub-tropis, mataharinya tidak sepanjang tahun dan itupun dengan sudut jatuh yang miring. Selain itu, iklim tropis memiliki udara yang lembab dan sebaliknya di iklim sub-tropis dengan udara yang kering,” tutur pendiri Ristra Indolab ini.

Celakanya, banyak orang Indonesia dengan kegengsiannya suka memakai produk kosmetik impor yang harganya mahal, padahal produk itu belum tentu cocok untuk karakter kulit orang Indonesia.

Yang lebih celaka lagi, menurut dr. Retno, banyak orang Indonesia ingin menjadi bule dengan konsep chemical peeling, proses pengelupasan kulit dengan zat kimia atau produk-produk pemutih yang mengandung merkuri. Efeknya memang secara instan kulit tampak putih, tapi itu tidak akan bertahan lama.

“Kadang kulitnya ketika terkena sinar matahari tampak merah seperti udang rebus,” ungkap dr Retno serius.

Penipisan kulit dan efek merkuri yang merusak lapisan pelindung kulit akan menjadi sangat berbahaya bila terkena sinar ultraviolet yang dikenal dengan sebutan UV A dan UV B karena kulit tidak memiliki lagi daya tangkal yang memadai.

“Ultraviolet ini, bila bertemu dengan oksigen dan terserap oleh lipid atau lemak kulit pada tubuh kita, akan beroksidasi. Hasilnya radikal bebas. Nah, kita tahu betapa bahayanya radikal bebas ini bila masuk ke sel-sel tubuh kita. Bukan saja merusak sel hingga menyebabkan penuaan dini kulit, bahkan bisa merusak DNA yang akan menimbulkan kanker. Kalau yang dirusak DNA pada kulit, hasilnya kanker kulit. Tapi kalau hasil oksidasi ini merusak DNA di organ tubuh, ya akan menyebabkan kanker di organ tubuh tersebut,” dr Retno menjelaskan.

Anehnya kemudian, untuk melindungi kulit, banyak orang menggunakan lotion SPF (sun protection factor).

“Ini salah kaprah. SPF saja tidak ada gunanya. Awalnya kosmetika luar negeri yang notabene digunakan oleh orang bule, mencoba menangkal UV B dengan menggunakan tabir surya yang mengandung SPF karena mereka tidak punya penangkal pigmen seperti kita. Dalam hal ini, pigmen yang mereka gunakan berkadar tinggi karena SPF tinggi mengandung paba (para amino benzoid acid) yang berfungsi fotosintetis, atau berfotosintesa untuk menghasilkan pigmen panahan paparan UV B tadi. Mengapa mereka membutuhkan pigmen penahan? Oleh karena kulit bule tidak memilikinya. Tidak seperti kulit kita yang sudah memiliki pigmen penahan karena pigmen kita jauh lebih besar butirannya daripada kulit bule. Nah kalau orang Asia memakai SPF tinggi, akan terjadi fotosintesa yang justru akan menghitamkan kulit,” tutur dr Retno, yang tanggal 15 Mei 2013 lalu mendapat penghargaan Pelopor Kosmetik pH Balance dari SINDO dan Terra Foundation.

Saran dr Retno, ubahlah paradigma bahwa cantik itu harus putih. Cantik itu adalah ketika kita memiliki kulit yang bersih dan sehat. Dan tidak ada yang instan, kita dituntut untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan kulit dengan produk-produk kosmetik yang berkualitas, aman, dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak tergiur begitu saja dengan iklan promosi produk kosmetik.

Share
Hits: 2069

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share