Iluni UI-Kowani Gelar Lokakarya "Mengapa Tokoh Perempuan Terpaksa Terlibat Korupsi"

: Minggu, 22 April 2012

Hari Hartini bukan sekedar perayaan biasa, ada makna yang teramat dalam dari perayaan ini. Dengan semakin diakuinya kesetaraan gender, inilah saatnya kaum wanita merayakan kemerdekaan berpikir, bertindak dalam kesetaraan dengan laki-laki.

 

"Ini sebuah kemenangan baik untuk kaum laki-laki maupun kaum perempuan," kata Ketua Umum Iluni UI Dr Hj Chandra Motik Yusuf SH MSc dalam sambutannya pada pembukaan Lokakarya "Mengapa Tokoh Publik Perempuan Terpaksa Terlibat Dalam Korupsi".

Lokakarya itu diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bekerjasama dengan Kowani dan didukung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, pada senin (23/4/2012) dalam rangkaian Perayaan Hari Kartini.

Selain Chandra Motik, hadir juga sebagai pembicara: Adnan Pandu Praja (Komisioner KPK), Teguh Kurniawan (akademisi UI) dan Dr Dewi Motik Pramono MSI (Ketua Umum Kowani).

Lebih lanjut Chandra Motik mengatakan, saat ini di zaman yang sudah serba canggih, sulit dibayangkan bahwa pernah ada suatu masa di mana kaum perempuan dibatasi hak-haknya yaitu di sekitar pupur, dapur dan tempat tidur. Pada waktu itu perempuan tidak bisa menentukan cita-citanya sendiri karena dalam kenyataannya memang perempuan tidak boleh bercita-cita.

"Kartini sendiripun tidak bisa mengubah keadaan di jamannya. Tapi ia sanggup mengubah stigma perempuan yang dilekatkan pada dirinya. Ia tidak diam saja, bergerak dengan pena dalam menuangkan pikirannya menembus jarak, ruang dan waktu. Ia memperjuangkan kesetaraan karena ia sangat tanggap bahwa kaum laki-laki dan kaum perempuan ada untuk saling melengkapi. Kartini sendiri tidak pernah tahu dan tidak pernah ikut menikmati hasil perlawanannya melawan zaman," jelas Chandra Motik.

Pembicara Adnan Pandu Praja yang juga alumni UI mengatakan, kaum perempuan lebih sedikit melakukan korupsi jika dibandingkan dengan kaum laki-laki. Menurutnya, banyak wanita yang duduk di pemerintahan, parlemen, berprofesi sebagai pengusaha dan jabatan-jabatan penting Negara lainnya, tingkat korupsinya lebih rendah jika dibandingkan dengan kaum pria.

Di awal tahun 2000, banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara tingkat korupsi yang rendah suatu Negara dengan partisipasi perempuan di pemerintahan. Studi yang dilakukan Bank Dunia pada tahun 1999 terhadap 150 negara, menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan yang tinggi di parlemen akan mendorong turunnya tingkat korupsi di suatu Negara.

Survey lain lanjut Adnan Pandu, yang dilakukan transparency international Global Corruption Barometer pada tahun 2009, di lebih 60.000 rumah tangga di lebih 60 negara, membuktikan secara konsisten bahwa perempuan lebih sedikit membayar suap dibandingkan laki-laki.

"Oleh karena itu peran wanita menjadi sangat penting dalam upaya pemberantasan korupsi mengingat wanita sudah memiliki kesempatan yang sama dengan menduduki jabatan-jabatan penting dan memiliki kelas social dan martabat yang sama dengan laki-laki," pinta Adnan Pandu.

Kontribusi wanita dalam pemberantasan korupsi, menurutnya tidak hanya ketika wanita berperan sebagai kepala daerah atau institusi, namun yang terpenting peranan wanita dalam keluarga. Karena dari keluargalah terbangun nilai-nilai moral yang membentuk dan menjaga integritas individu.

Sementara itu pengusaha nasionaal Dewi Motik Pramono menyatakan bahwa Kowani mempunyai kepedulian yang sangat tinggi terhadap pemberantasan korupsi, ini dibuktikan dengan digelarnya acara ini yang bekerjasama dengan KPK. Ia juga meminta kepada kaum wanita untuk tak bosan-bosannya mengingatkan kepada suaminya sebagai pasangan hidupnya, baik yang bekerja di pemerintahan, legislative, pengusaha dan lain-lain untuk tidak melakukan korupsi.

Untuk itu semua harus dilandasi dengan dasar agama yang kuat sehingga imannya tidak goyah. Iapun mempersilahkan kaum wanita untuk masuk partai politik asalkan bisa mewarnai partai politik tersebut. Setelah mewarnai maka ia harus mengkampanyekan anti korupsi.
(Sumber : Mediasionline)

Share
Hits: 1895

Universitas Indonesia  ll  Direktorat Hubungan Alumni UI 

 ILUNI FE   ll   ILUNI FH  ll  ILUNI FK  ll  ILUNI FT  ll  ILUNI FKG  ll  ILUNI Fasilkom  ll   ILUNI FIB  ll  ILUNI FIK  ll  ILUNI FISIP  ll  ILUNI FKM  ll  ILUNI FMIPA  ll  ILUNI FPSI  ll  ILUNI PASCA  ll   ILUNI VOKASI 

Copyright © 2013 - Ikatan Alumni Universitas Indonesia  - All rights reserved

Share